Dikeluarkannya Limbah Batu bara dari Limbah B3

Latar Belakang

Peraturan turunan dari Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat. 2 Februari 2021 Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, sebelumnya PP Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, aturan ini mengeluarkan limbah batu bara dari kategori bahan berhaya dan beracun. Setelah sekian lama batu bara menjadi sumber bahan bakar pembangkit energy listrik dengan berbagai dampak negatif yang diberikan diberikan oleh limbahnya mulai dari polusi partikel dan limbah kimia yang menjadikan lingkungan rusak, menjadi tanya besar saat adanya regulasi yang mengeluarkan fly ash dan fly bottom hasil pembakaran batu bara dari kategori Limbah B3.

Pembahasan

Limbah B3?

Menurut PP Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Limbah adalah sisa suatu Usaha dan/atau Kegiatan. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disebut Limbah B3 adalah zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi dan/atau jumlahnya baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, membahayakan lingkungan hidup, kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain. Limbah B3 memiliki karakteristik mudah meledak, mudah menyala, reaktif, korosif, dan/atau beracun.

Beracun (Moderately Toxic) Limbah ini diketahui memiliki kandungan zat beracun yang dapat membahayakan makhluk hidup baik manusia dan hewan hingga menyebabkan sakit hingga kematian. Penetrasi kandungan racun sendiri ke dalam tubuh dapat melalui pernafasan, sentuhan, hingga pengkonsumsian makanan. Bahaya yang terkandung dari karakteristik limbah B3 utama ini menciptakan sejumlah karakteristik khusus seperti;

  1. Irritant atau menimbulkan iritasi dan peradangan kepada kulit serta pernapasan. Contoh: Sisa asam sulfat dalam industri baja, limbah asam dari baterai serta accu, asam formiat dari indusri karet dan limbah sodium hidroksida pada industri logam.
  2. Carsinogenic, Mutagenic, Teratogenic, atau yang mempengaruhi pertumbuhan sel-sel seperti sel kanker, perubahan kromosom, hingga kelainan pada pembentukan embrio.

Tidak hanya mengandung racun untuk manusia dan hewan, beberapa jenis limbah B3 juga diketahui memiliki kandungan beracun yang turut membahayakan lingkungan dan ekosistem tumbuhan. Limbah semacam ini dicontohkan seperti Chlorofluorocarbon (CFC) sisa mesin pendingin.

Mudah Meledak (Explosive) Karakteristik limbah B3 lainnya ini adalah sewaktu-waktu mudah meledak (explosive). Ledakan tersebut disinyalir hadir dari reaksi fisika dan kimia sederhana yang berasal dari kandungan limbah tersebut. Sebelum masuk kepada fase ledakan tersebut, limbah B3 tersebut  mengalami dua mekanisme mulai dari oksidasi (oxidizing) yakni melepaskan panas  serta mekanisme terbakar (flammable) saat terkena kontak dengan material lain. Limbah dengan karakteristik ini sangat sulit dan berbahaya ditangani, sekalipun terdapat penanganannya, metode penanganan tersebut harus dilaksanakan secara serius dan membutuhkan sejumlah waktu.

Beberapa contoh limbah B3 dalam karakteristik ini yakni limbah kaporit, serta beberapa limbah laboratorium seperti pelarut toluena, pelarut aseton dan pelarut benzena.

Jenis-Jenis Limbah B3

PP Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup tidak memuat jenis-jenis Limbah B3, didapat penjelasan jenis-jenis Limbah B3 tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.

  • Limbah B3 dari sumber spesifik

Dibedakan menjadi dua sub-jenis, yakni sumber spesifik umum dan sumber spesifik khusus, jenis limbah berbahaya ini biasanya berasal dari kegiatan utama industri. 

  • Limbah B3 dari Sumber tidak Spesifik

Sama berasal dari kegiatan industri seperti jenis limbah B3 sebelumnya, perbedaannya yakni limbah ini berasal bukan dari aktivitas utama industri tetapi dari aktivitas sampingan industri seperti pencucian, pengemasan, pemeliharaan alat dan sebagainya. Bahaya dari jenis limbah B3 yang satu ini turut datang dari ketidaktahuan atau belum pastinya kandungan racun yang terkandung.

  • Limbah B3 dari B3 kadaluarsa, B3 yang tumpah, B3 yang tidak memenuhi spesifikasi produk yang akan dibuang, dan bekas kemasan B3

Seperti halnya sebuah produk, limbah atau limbah B3 turut memiliki masa kadaluwarsa. Oleh karena itu terdapat intensitas bahaya lainnya dari limbah B3 dari kategori jenis ini. Adapun asal jenis limbah B3 yang ketiga ini bisa datang dari aktivitas kegiatan industri (utama dan sampingan) atau pun dari limbah rumah tangga.

Limbah Non B3?

Dalam PERMEN NO.39/M-DAG/PER/9/2009 Tentang Ketentuan Impor Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun (Non B3), Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun, selanjutnya disebut Limbah Non B3, adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan berupa sisa, skrap atau reja yang tidak termasuk dalam klasifikasi/kategori limbah bahan berbahaya dan beracun.  Sisa adalah produk yang belum habis terpakai dalam proses produksi atau barang, yang masih mempunyai karakteristik yang sama namun fungsinya telah berubah dari barang aslinya. Skrap adalah barang yang terdiri dari komponen-komponen yang sejenis atau tidak, yang terurai dari bentuk aslinya dan fungsinya tidak sama dengan barang aslinya. Reja adalah barang dalam bentuk terpotong-potong dan masih bersifat sama dengan barang aslinya namun fungsinya tidak sama dengan barang aslinya.

FABA?

Fly Ash dan Bottom Ash, fly ash adalah abu yang dihasilkan dari pembakaran batu bara yang terdiri dari partikel-partikel yang halus. Batu bara yang dibakar dalam boiler menghasilkan abus   sisa yang mengapung karena berat jenisnya yang sangat   ringan   yang disebut fly ash. Bersamaan dengan itu, dihasilkan pula gas buangan. Abu yang jatuh ke dasar boiler disebut bottom ash, pembangkit listrik bertenaga batubara modern, fly ash umumnya ditangkap  oleh pengendapan   elektrostatik atau peralatan filtrasi parike lainnya sebelum gas buang mencapai cerobong asap.[1]

Kandungan Berbahaya dalam Fly Ash dan Bottom Ash

Kandungan bahan berbahaya yang ada dalam fly ash dan bottom ash antara lain: arsenic, berilium, boron, cadmium, chromium, cobalt, lead, mangan, merkuri, selenium, strontium, thallium, vanadium, juga mengandung dioksin dan senyawa PAH (Polycyclic Aromatic Hydrocarbon), hasil analisa konsentrasi logam berat pada limbah batubara yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya ( Rhazista Noviardi, 2013) berdasarkan Keputusan Kepala Bapedal No.04/Bapedal/IX/1995 tentang tata cara persyaratan penimbunan hasil pengolahan, persyaratan lokasi bekas pengolahan dan lokasi bekas penimbunan limbah bahan berbahaya dan beracun.[2]

Pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash

Fly ash atau abu terbang dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran semen untuk menghasilkan Portland Pozzolan Cement (PPC). Selain itu, dilakukan uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) serta analisis kandungan logam berat dari fly ash dan PPC tersebut.  Hasil perocobaan menunjukkan bahwa fly ash memenuhi persaratan sebagai bahan campuran PPC dan memenuhi syarat peraturan pemerintah No.85/1999 tentang Pengelolaan Llimbah Bahan Berbahaya dan Beracun.[3]

Pemanfaatan Abu Dasar Batubara (Bottom Ash): (a) FABA sebagai pembenah tanah dan penutrisi tanah pada tanaman Bunga Matahari. (b) Pemanfaatan FABA sebagai campuran over burden untuk mencegah air asam tambang. (c) sebagai absorben bahan organik pada air payau. (d) sebagai absorben ion logam Cd2+. (e) untuk bahan baku bio briket. (f) untuk di daur ulang melalui karbonisasi. (g) sebagai pengganti agregat halus pada pembuatan beton. (h) sebagai agregat buatan pada pembuatan beton (i) sebagai pengganti dan bahan baku semen. (j) sebagai bahan baku keramik, gelas, batubata, dan refraktori. (k) Filler aspal beton, plastik, dan kertas.[4]

Dampak FABA pada lingkungan dan masyarakat bergantung dari jumlah limbah dan kandungan toxic atau racun di dalamnya. FABA dalam jumlah besar dan tidak dikelola dengan baik akan dapat menyebar di lingkungan luas, masuk ke dalam air, udara, dan atau tanah sehingga berbahaya. Salah satu penyakit akibat FABA adalah gangguan pada sistem pernapasan. Adapun durasi munculnya gangguan pada sistem pernapasan akibat FABA tersebut tergantung pada jumlah atau konsentrasi FABA yang masuk dalam tubuh dan durasi terpapar. Peyakit lain yang mungkin timbul adalah silicosis, yaitu penyakit yang timbul akibat silica yang berlebihan di dalam tubuh.[5]

Adanya limbah B3 yang tidak memenuhi karakteristik.

Evaluasi terhadap hasil uji karakteristik yang dilakukan tim ahli limbah B3 melakukan identifikasi dan analisis terhadap hasil uji karakteristik limbah, proses produksi pada usaha dan/atau kegiatan yang menghasilkan limbah, dan bahan baku dan/atau bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi. Menunjukan adanya karakteristik limbah B3 yakni mudah meledak, mudah menyala, reaktif, infeksius, korosif, dan beracun, juga menunjukan adanya limbah B3 yang tidak memenuhi ketentuan karakteristik limbah B3, rekomendasi tim ahli limbah B3 memuat pernyataan bahwa limbah merupakan limbah non B3.[6]

Pemanfaatan Limbah Non B3

Penghasil limbah Non B3 dapat melakukan pemanfaatan terhadap limbah tersebut dan wajib tercantum dalam Persetujuan Lingkungan dengan memuat rincian dan tujuan pemanfaatan limbah Non B3. Pemanfaatan Limbah non B3 meliputi: (a) pemanfaatan Limbah Non B3 sebagai substitusi bahan baku (seperti pembuatan beton, batako, pavin block, beton ringan, dan bahan konstruksi lainnya yang sejenis, industri semen, pemadatan tanah, dan bentuk lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi); (b) pemanfaatan limbah non B3 substitusi sumber energy (seperti bahan bakar); (c) pemanfaatan limbah non B3 sebagai bahan baku (seperti pembuatan produk yang mengunakan proses koagulasi, kristalisasi, oksidasi, dan destilasi. Pembuatan produk kertas, low grade paper, dan kertas chipboard. Pembuatan base oil dan bahan bakar miyak, pelebutan logam, pembenahan tanah, dan bentuk lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi); (d) pemanfaatan limbah non B3 sebagai produk samping; dan (e) pemanfaatan limbah non B3 sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.[7]

Dalam pemanfaatannya FABA sebagai limbah non b3 memerlukan tata kelola yang diawasi dengan ketat dan dan dibina, yang sesuai dengan prinsip-prinsip lingkungan, hal akan tertuang dalam SOP dan Buku Mutu yang masih dalam proses perancangan.[8]

Kesimpulan

Dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada tanggal 2 Februari 2021, menetapkan limbah batu bara (fly ash dan bottom ash) sebagai limbah non B3 dari evaluasi hasil uji karakteristik tim ahli limbah, dan menunjukan adanya limbah B3 yang tidak memenuhi ketentuan karakteristik limbah B3, rekomendasi tim ahli limbah B3 memuat pernyataan bahwa limbah tersebut merupakan limbah non B3.

Pengecualian FABA dari limbah B3, memberikan respon positif terhadap pembangunan infrastruktur negara ini, dengan dimanfaakannya limbah FABA ditengah padatnya pembangunan, akan sangat membantu karena pada dasarnya limbah FABA dapat diolah menjadi bahan baku pengganti semen. Akan tetapi, pengelolaan limbah non B3 ini dalam pemanfaatannya tentu diperlukan pengawasan secara ketat dan terstruktur, mengingat dampak akan pencemaran lingkungan dan efek buruk terhadap kesehatan yang cukup besar.

Kebijakan Pemerintah dalam hal mengeluarkan limbah batu bara dari klasifikasi limbah B3 tentunya merupakan kebijakan yang memiliki sisi baik dan buruknya. Sebagai bentuk tujuan dari pemerintah itu sendiri mengeluarkan Limbah Batu Bara dari limbah B3 tentu harus tetap kita analisis dan awasi sejalan dengan setiap kebijakan pemerintah yang sejatinya memang selalu harus kita awasi. Adanya pertikaian yang mungkin muncul antara lingkungan dengan segala segala bidang kehidupan manusia yang salah satunya yaitu ekonomi tentunya perlu disikapi dengan bijak dan tepat. Menjadi poin penting dari pembahasan di atas bahwa dapat kita simpulkan sebagai suatu gerakan penting ke depan yang dapat kita lakukan yaitu adanya pengawasan terhadap pemanfaatan kebijakan pemerintah ini, mengenai limbah batu bara yang saat ini telah menjadi limbah non B3. Sebab ada adagium hukum menyatakan bahwa “Salus Populi Supreme Lex” (Kesejahteraan Rakyat adalah hukum tertinggi)


[1] Kajian Pengaruh Pemanfaatan Limbah Faba (Fly Ash Dan Bottom Ash) Pada Konstruksi Lapisan Base Perkerasan Jalan Tengku Syahilla Indriyati, Alfian Malik, Yosi Alwinda Program Studi S1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau Kampus Bina Widya Jl. Hr. Soebrantas Km 12,5 Pekanbaru, Kode 28293 Https://Journal.Unilak.Ac.Id/Index.Php/Teknik/Article/View/3596/1937, Diakses 3 Maret 2021

[2] Ibid.

[3] Pemanfaatan Fly Ash Sebagai Bahan Campuran Pembuatan Portland Possolan Cement (Ppc) (Utilization Of Fly Ash As A Mixing In Portland Pozzolan Cement (Ppc) Production) Https://Doi.Org/10.22146/Jml.18656, Diakses 3 Maret 2021.

[4] Pemanfaatan Limbah Pembakaran Batubara (Bottom Ash) Pada Pltu Suralaya Sebagai Media Tanam Dalam Upaya Mengurangi Pencemaran Lingkungan Rr. Mekar Ageng Kinasti 1; Djoko Nugroho Notodisuryo 2 Jurusan Teknik Sipil, Sekolah Tinggi Teknik – Pln Hlmn 131 Https://Media.Neliti.Com/Media/Publications/269788-Pemanfaatan-Limbah-Pembakaran-Batubara-B-60bf11a6.Pdf, Diakses 3 Maret 2021.

[5] Limbah Batu Bara, Apa Bahayanya Untuk Lingkungan?, 2021; Galuh Mega Kurnia Http://News.Unair.Ac.Id/2021/03/12/Limbah-Batu-Bara-Apa-Bahayanya-Untuk-Lingkungan/, Diakses 3 Maret 2021

[6] Pasal 280, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

[7] Bagian ketiga ttg Pengelolaan Limbah Non B3, Pasal 450 (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

[8] Media Briefing Pengelolaan FABA dari sumber PLTU secara live streaming di Youtube Kementerian LHK, senin 15 maret pkl 13.00-14.00 WIB. Dengan narasumber: Rosa Vivien Ratnawati (Ditjen Pengelolaan Limbah dan B3 KLHK), Rida Mulyana (Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM), Ridwan Jamaludin (Dirjen Minerba Kementerian ESDM). Moderator: Nunu Anugrah (Kepala Biro Humas KLHK). https://www.youtube.com/watch?v=WJMU1nSSkxw&t=444s diakses 19 Maret 2021.