All posts by semasthb

Artikel Jurnal Vol. 2

Kementerian Advokasi

Senat Mahasiswa STHB

2020/2021 Kabinet Tiksna

Reswara

Pandemi vs Pendidikan

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. Tuhan yang maha pengasih, atas segala rahmat dan karunianya sehingga Kementerian Advokasi Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum Bandung Kabinet Tiksna Reswara dapat menyelesaikan Artikel Jurnal Vol. 2 dengan judul “Pandemi vs Pendidikan” dengan baik. 

Harapan kami semoga artikel jurnal yang telah tersusun ini dapat bermanfaat sebagai salah satu rujukan maupun pedoman bagi para pembaca, menambah wawasan serta pengalaman. 

Sebagai penulis, kami mengakui bahwasanya masih banyak kekurangan yang terkandung di dalamnya. Oleh sebab itu, dengan penuh kerendahan hati saya berharap kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan saran sehingga nantinya kami dapat memperbaiki bentuk ataupun isi artikel jurnal ini menjadi lebih baik lagi. Terima Kasih. 

Bandung, 19 Juli 2021 

Kementerian Advokasi  

Senat Mahaiswa STHB 2020/2021 

Kabinet Tiksna Reswara

——LITERASI TEKNOLOGI——

BAB I PENDAHULUAN

A. Landasan Teori

Seiring meningkatnya kasus pandemi Covid-19 di berbagai negara di dunia tak terkecuali negara Indonesia bukan saja membawa kekhawatiran bagi dunia kesehatan, akan tetapi mengganggu seluruh kegiatan baik dari sektor finansial ekonomi hingga pendidikan. Dalam hal pendidikan tentu mengganggu pelaksanaan pembelajaran yang lazim dilakukan tatap muka, namun dengan keadaan pandemi yang masih membelenggu masyarakat di Indonesia tentu hal tersebut membuat semuanya menjadi terganggu. Selain mengganggu sistem pembelajaran yang biasa dilakukan secara tatap muka, pandemi Covid-19 juga membuat dunia pendidikan seolah-olah diharuskan menghadapai situasi yang baru dan memaksa, pasalnya hal ini dirasakan dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) hingga tingkat Perguruan Tinggi dimana mau tidak mau diharuskan melaksanakan pembelajaran secara daring. Hal ini mulai dilakukan seiring dengan dibuatnya Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa DaruratPenyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) yang isinya adalah dalam rangka pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat Coronavirus Disease (Covid19) melalui penyelenggaraan Belajar dari Rumah sebagaimana yang yang tercantum dalam Surat Edaran Nomor. 4 Tahun 2020 tantang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Desease (Covid-19). Hal ini tentu menjadi tuntutan yang harus diemban bagi seluruh pelajar dan juga tenaga pengajar yang dalam hal ini bisa dikatakan sebagai penanggung jawab untuk memberikan suatu pendidikan. Mesikup aturan tersebut sudah dilayangkan melaui Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 akan tetapi hal ini bukan hal yang mudah karena bersifat secara tidak terduga.

Kebijakan pembelajaran jarak jauh bagi dunia penidikan di Indonesia sudah pasti menimbulkan kekhawatiran yang berlebih khususnya bagi para orang tua dan guru. Hal ini tentu membuat takut para orang tua dan juga guru. Rasa takut yang muncul tentu saja bukan tanpa alasan, mulai dari bahaya penyebaran yang menyebabkan kematian hingga pengaruhnya terhadap perkembangan tingkah laku anak mereka selaku sebagai peserta didik.  Selain rasa khawatir yang timbul karena faktor kesahatan tentu terdapat hal lain yang membuat para tenaga pendidik menjadi kebingungan adalah metode seperi apa yang akan mereka lakukan untuk memberikan pendidikan kepada peserta didiknya, hal ini memang bukan sesuatu yang mudah bahkan harus dipikirkan secara matang karena bagaimanpun juga pendidikan harus disampaikan secara baik dan dapat dipahami oleh peserta didiknya guna dapat melanjutkan ke tingkatan yang selanjutnya. Beberapa metode sudah digunakan dalam pembelajaran jarak jauh ini yang didominasi secara daring atau online. Sering dijumpai para tenaga pengajar baik dari Guru di tingkat dasar, menengah, bahkan tingakat perguruan tinggi menggunakan sistem tatap muka secara virtual menggunakan aplikasi meeting conference. Media tersebut menjadi trend di dunia pendidikan Indonesia saat ini bahkan menjadi suatu kebiasaan baru dalam melakukan peebelajaran. Namun, hal ini bukan tanpa kendala berarti. Tak jarang dijumpai hal-hal tak terduga ketika proses pembelajaran online sedang berlansung sebelajaran. Namun, hal ini bukan tanpa kendala berarti. Tak jarang dijumpai hal-hal tak terduga ketika proses pembelajaran online sedang berlansung seperti konektivitas internet yang tidak stabil, suara yang bocor, ketidakpahaman akan aplikasi dan beberapa hal yang mengganggu selama pembelajaran sehingga menjadi tidak efektif.

Berbicara mengenai metode yang digunkan adalah metode yang dilakukan secara daring atau online tentu ada hubungannya dengan penggunaan aplikasi dan juga alat yang digunakan. Tak jarang dijumpai beberapa tenaga pengajar bahkan sampai peseserta didik yang mengeluh karena ketidaktahuan dalam menggunakan alat serta aplikasi tersebut. Selain itu yang menjadikan kendala dalam pemebejaran jarak jauh secara online adalah yang menjadi penunjang dari semua itu yakni akses internet. Jika melirik kembali kepada Pancasila sebagai sumber falsafah bernegara Indonesia dimana disebutkan dalam sila ke lima yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” dimana hal tersebut bukan hanya dalam bentuk keadilan secara hukum dan terpenuhinya ekonomi yang sama rata, akan tetapi semua hal tak terkecuali pendidikan. Pendidikan merupakan hal penting yang harus dirasakan dan diberikan kepada masyarakat di Seluruh Indonesia karena hal tersebut menentukan arah bangsa ini dimasa yang akan datang. Akan tetapi hal ini menjadi tanda tanya besar khususnya di masa pandemi Covid-19 ini semakin terasa bahwa pendidikan di Indoensia ini masih terbelenggu dan separuhnya masih buta. Hal terebut tentu ditimbulkan karena kurangnya pemeberian edukasi baik dalam pembelajaran konvensional maupun online sehingga membuat kurangnya semangat literasi dan alat penunjang yang masih jauh dari kata layak seperti di beberapa daerah tepencil. Oleh karena itu tulisan ini dibuat oleh penulis sebagai rasa simpati sekaligus empati terhadap kondisi pendidikan di Indonesia yang masih terbelenggu dan diperparah dengan keadaan pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai.   

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian diatas, permasalahan yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah:

  1. Bagaimana Efektivitas Program Pembelajaran Jarak Jauh Terhadap Kondisi Pendidikan di Indonesia? 
  2. Bagaimana Indonesia Mengeskalasi Program Pembelajaran Jarak Jauh?

C. Tujuan

Berdasarkan poin identifikasi masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan dalam tulisan ini adalah:

  1. Untuk Mengetahui Efektivitas Program Pembelajaran Jarak Jauh Terhadap Kondisi Pendidikan di Indonesia 
  2. Untuk Mengetahui Bagaimana Indonesia Mengeskalasi Program Pembelajaran

Jarak Jauh

BAB II LANDASAN TEORI

A. Pendidikan  

Menurut kamus Bahasa Indonesia Kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’ dan menemukan imbuhan ‘pe’ serta akhiran ‘an’, sehingga kata ini memiliki makna proses atau metode ataupun perbuatan mendidik.  Pada umumnya definisi pendidikan merupakan suatu proses pengubahan sikap dan tata laku seorang ataupun kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran serta pelatihan, dan penelitian.[1]  

Pengertian pendidikan dalam konteks UU Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) Nomor. 20 Tahun 2003 merupakan, usaha sadar serta terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pendidikan agar peserta didik secara aktif meningkatkan kemampuan dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, karakter, kecerdasan, akhlak mulia, serta kemampuan yang dibutuhkan dirinya serta warga.  

Menurut Ki Hajar Dewantara yang merupakan (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: “Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya adalah dalam hal ini pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Sedangkan pengertian pendidikan menurut H. Horne, yaitu proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.[2]

Dari beberapa pengertian pendidikan menurut ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, atau latihan bagi peranannya di massa yang akan datang.  Pendidikan merupakan Bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.  

Tujuan Pendidikan  

Secara umum, Tujuan pendidikan adalah menambah ilmu pengetahuan baik ilmu alam maupun ilmu sosial, mengembangkan bakat yang dimiliki, serta dengan adanya pendidikan maka dapat mewujudkan suatu cita-cita. Hal itu sesuai dengan bunyi UUD 1945 Alinea keempat yaitu “Mencerdasakan kehidupan bangsa”. Apabila diamati kalimat yang tertuang dalam UUD 1945 Alinea keempat kiranya hak ini merupakan tujuan utama nasional. Sebab, menggambarkan cita-cita bangsa Indonesia untuk mendidik dan menyamaratakan pendidikan ke seluruh penjuru Indonesia agar tercapai kehidupan berbangsa yang cerdas.  

Tujuan pendidikan mempunyai dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Tujuan pendidikan menduduki posisi penting diantara komponen-komponen pendidikan lainya. Tujuan pendidikan bersifat normatif, yaitu mengandung unsur-unsur norma bersifat memaksa, tetapi tidak bertentangan dengan hakikat perkembangan peserta didik serta dapat diterima oleh masyarakat sebagai nilai hidup yang baik. Sehubungan dengan fungsi tujuan yang demikian penting itu, maka menjadi keharusan bagi pendidik untuk memahaminya. Kurangnya pemahaman pendidik terhadap tujuan pendidikan dapat mengakibatkan kesalahan didalam melaksanakan pendidikan. 

Menurut Ki Hajar Dewantara, tujuan pendidikan adalah penguasaan diri, sebab disinilah pendidikan memanusiakan manusia (humanisasi). Penguasaan diri merupakan langkah yang dituju untuk tercapainya pendidikan yang memanusiawikan manusia. Ketika peserta didik mampu menguasai dirinya, maka mereka akan mampu untuk menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa. Beliau juga menunjukkan bahwa tujuan diselenggarakannya pendidikan adalah membantu peserta didik menjadi manusia yang merdeka.  

B. Pembelajaran Daring (dalam jaringan)  

Secara istilah Kata daring berasal dari dua kata yaitu dalam dan jaringan. Maka Dalam konteks ini Pembelajaran daring merupakan suatu proses pembelajaran yang memanfaatkan jaringan internet saat pelaksanaannya. Pembelajaran Daring Learning sendiri dapat di pahami sebagai pendidikan formal yang diselenggarakan oleh sekolah yang peserta didiknya dan instrukturnya (guru) berada di lokasi terpisah sehingga memerlukan sistem telekomunikasi interkatif sebagai media penghubung keduanya dan berbagai sumber daya yang diperlukan didalamnya.  Pembelajaran daring atau yang lebih dikenal dengan nama online learning merupakan pembelajaran yang dilakukan dengan bantuan internet ataupun jaringan. Untuk lebih konkritnya Di bawah ini ada beberapa pengertian pembelajaran daring menurut para ahli, antara lain:   

  1. Harjanto T. dan Sumunar menyatakan bahwa pembelajaran daring merupakan proses transformasi pendidikan konvensional ke dalam bentuk digital sehingga memiliki tantangan dan peluang tersendiri.  
  2. Menurut Mulayasa memberikan argumen pembelajaran daring pada dasarnya adalah pembelajaran yang dilakukan secara virtual yang tersedia. Meskipun demikian, pembelajaran daring harus tetap memperhatikan kompetensi yang akan diajarkan.  
  3. Syarifudin juga menjelaskan bahwa pembelajaran daring adalah bentuk pembelajaran yang mampu menjadikan siswa mandiri tidak bergantung pada orang lain. 
  4. Isman menjelaskan bahwa pembelajaran daring merupakan pemanfaatan jaringan internet dalam proses pembelajaran.  
  5. Bilfaqih berpendapat bahwa pembelajaran daring merupakan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan dalam jaringan agar mencakup target yang luas.  

Berdasarkan beberapa uraian pengertian pembelajaran daring di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran daring merupakan pembelajaran digital yang dilakukan tanpa tatap muka dan memanfaatkan melalui jaringan ataudalam hal ini internet yang telah tersedia. Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa pada saat ini dunia sedang berjuang melawan penyakit yang menyebar di seluruh dunia yaitu penyakit virus Covid-19. Hal itu berdampak pada berbagai aspek Mulai dari Ekonomi, kesehatan, politik, dan lebih khususnya yaitu pendidikan. Maka dalam konteks ini untuk solusi berbagai dampak dari covid-19 khususnya dalam bidang pendidikan Syarifudin menegaskan bahwa pembelajaran daring untuk saat ini dapat menjadi sebuah solusi pembelajaran jarak jauh ketika terjadi bencana alam atau keadaan seperti social distancing. Kegiatan diaplikasikannya pembelajaran daring menjadikan kegiatan belajar mengajar dalam konteks tatap muka dihentikan sementara, dan diganti dengan sistem pembelajaran daring melalui apliaksi yang sudah tersedia. Pembelajaran daring mengedepankan akan interaksi dan pemberian informasi yang mempermudah peserta didik meningkatkan kualitas belajar. Selain itu, pembelajaran berbasis daring mempermudah satu sama lain meningkatkan kehiduoan nyata dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu sangat bermanfaat pembelajaran daring untuk kalangan pendidik dan peserta didik.  

Menurut Bilfaqih pada umumnya pembelajaran daring memiliki tujuan memberikan layanan pembelajaran bermutu secara dalam jaringan yang bersifat massif dan terbuka untuk menjangkau target yang lebih banyak dan lebih luas. Pembelajaran daring untuk saat ini telah menjadi populer karena itu potensi yang dirasakan untuk menyediakan layanan akses konten lebih fleksibel, sehingga memunculkan beberapa keuntungan dalam penerapannya. Berikut beberapa keuntungan dalam penerapan pembelajaran E-learning atau daring, antara lain:  

  1. Mengurangi biaya. Dengan menggunakan E-learning, kita menghemat waktu dan uang untuk mencapai suatu tempat pembelajaran. Dengan Elearning kita dapat diakses dari berbagai lokasi dan tempat.  
  2. Fleksibilitas waktu, tempat dan kecepatan pembelajaran. Dengan menggunakan E-learning, pengajar dapat menentukan waktu untuk belajar dimanapun. Dan pelajar dapat belajar sesuai dengan kemampuan masingmasing.  
  3. Standarisasi dan efektivitas pembelajaran. E-learning selalu memiliki kualitas sama setiap kali diakses dan tidak tergantung suasana hati pengajar. E-learning dirancang agar pelajar dapat lebih mengerti dengan menggunakan simulasi dan animasi.

Di samping kelebihan di atas, terdapat kekurangan dari penggunaan E-learning antara lain:  

  1. Kurang cepatnya umpan balik yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar  
  2. Pengajar perlu waktu lebih lama untuk mempersiapkan diri  
  3. Terkadang membuat beberapa orang merasa tidak nyaman  
  4. Adanya kemungkinan muncul perilaku frustasi, kecemasan dan kebingungan. Pembelajaran daring dilakukan melalui berbagai aplikasi yang dapat menunjang proses pembelajaran seperti google classroom, whatsapp group, zoom dan lain sebagainya. Pembelajaran daring ini akan membentuk pembelajaran yang menajadikan siswa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. 

Berdasarkan apa yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diketahui bahwa, Semua yang didiskusikan dalam proses belajar mengajar melalui daring penting untuk menuntaskan kompetensi yang akan dicapai. Oleh karena itu, melalui pelaksanaan pembelajaran daring ini siswa diharapkan mampu mengrekonstruksi ilmu dan Fleksibilitas waktu, tempat dan kecepatan pembelajaran. Dengan menggunakan Elearning, pengajar dapat menentukan waktu untuk belajar dimanapun. Dan pelajar dapat belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing. Namun, di samping dampak positif dari metode pembelajaran daring, ada juga dampak negatif atau kelemahannya yaitu Adanya kemungkinan muncul rasa perilaku frustasi, kecemasan dan kebingungan. Pembelajaran daring dilakukan melalui berbagai aplikasi yang dapat menunjang proses pembelajaran seperti google classroom, whatsapp group, zoom dan lain sebagainya. Tentunya para pelajar ada sebagian yang bingung untuk mengakses berbagai aplikasi tersebut atau adapula pelajar yang susah mendapatkan sinyal device karena berada jauh dari perkotaan.  

C. Literasi

Literasi mudah dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis dengan lancar. Namun, hal ini tidak terjadi pada saat ini, karena kebutuhan pengetahuan individu sangat bervariasi. Menurut Nur Widayani dkk (2016) membaca dan menulis mengembangkan kemampuan membaca, menulis, berbicara, mendengarkan dan menggunakan teknologi. Kebutuhan akan pengetahuan pendidikan yang lebih mendalam di Indonesia kini menciptakan pemahaman literasi yang lebih luas.  

Konsep literasi sekarang memiliki arti yang lebih luas, termasuk banyak bidang penting lainnya. Faktor yang mendorong berkembangnya konsep literasi dimulai dari tuntutan zaman yang menuntut keterampilan dan literasi yang lebih. Pangesti Widarti, dkk (2016) Untuk itu literasi memegang peranan penting di era globalisasi ini. Konsep literasi diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis, karena hal inilah yang mendorong berkembangnya konsep literasi. Orang yang telah memiliki pengetahuan untuk digunakan dalam kegiatan apapun yang membutuhkan literasi nyata di masyarakat dan pengetahuan yang diperoleh dari membaca dan menulis untuk penggunaan pribadi, kadang-kadang disebut sebagai literasi. Konsep literasi berkembang dari waktu ke waktu, bergerak dari pemahaman yang sempit ke pemahaman yang lebih luas yang mencakup teknis, politik, berpikir kritis, kepekaan terhadap lingkungan atau ke bidang penting literasi. Tentu saja, ini berevolusi dari makna aslinya, yang secara sederhana didefinisikan sebagai melek huruf. Gristmill (2015: 50) oleh Yunus Abidi mengatakan bahwa dalam sejarah yang lebih luas dari budaya teks cetak, perubahan telah dibuat sampai pada titik bahwa modalitas visual menjadi lebih penting dengan bantuan teknologi baru perusahaan penulisan. 

Semakin luas konsep literasi, semakin banyak istilah literasi digunakan dalam berbagai bidang keilmuan secara terintegrasi dengan bidang kajian bahasa. Sastra dianggap sebagai alat yang dapat digunakan untuk mengirimkan dan mengambil informasi. Ini akan berkembang di setiap bidang pengetahuan dengan perkembangan zaman. Ada berbagai disiplin ilmu yang mengidentifikasi komunikasi sebagai salah satu aspek literasi.  Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan literasi tidak dapat dipisahkan dari ranah linguistik, bahasa menjadi alat utama untuk menyebarluaskan pengetahuan. Dalam perkembangannya, literasi dalam berbagai disiplin ilmu telah menggunakan media yang berbeda sebagai alat komunikasi, dan tidak hanya tercapai pembentukan makna untuk pemahaman kritis, tetapi juga penggunaan media dalam bentuk bahasa cetak. Bahasa lebih dipahami melalui berbagai media komunikasi yang mendukung literasi, seperti fotografi, video, film, dan pertunjukan. Bosman menurut Yunus Abidin dkk (2017:2) memberi contoh. Singkatnya, Encyclopaedia Britannica, yang dicetak selama 2 tahun, telah menjadi kamus online dengan menggunakan komponen multimedia.  

Menurut Depdiknas (2004), literasi diartikan sebagai “keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan tidak untuk dapat sekedar hidup dari segi finansial, tetapi juga sebagai suatu yang dibutuhkan untuk mengembangkan diri secara sosial, ekonomi dan budaya dalam kehidupan modern.” Dari pernyataan Depdiknas tersebut literasi diarahkan kepada kemampuan seseorang dalam mengembangkan dirinya di bidang sosial, ekonomi dan budaya dari proses pembelajaran literasi. 

Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, konsep literasi semakin berkembang di era modern ini, dan istilah yang berulang disebut multiliterasi. Dibandingkan dengan Luke Kist dari Yunus Abidin (2015:52) mengatakan: Berdasarkan pernyataan tersebut, upaya membangun makna dapat memberikan akses literasi yang melestarikan makna sehingga pengetahuan yang berkembang dapat ditemukan dan ditemukan. Baguley, Pullen and Shrot dari Yunus Abidin (2015:56) menggambarkan pembelajaran multiliterasi sebagai cara untuk memperluas pemahaman mereka tentang kurikulum literasi yang diajarkan di sekolah formal dan mendorong siswa untuk berpartisipasi secara efektif di masyarakat. Multi-teks adalah cetak biru yang dapat digunakan untuk memahami berbagai jenis teks dan media yang dihasilkan oleh teknologi baru yang berbeda, memberikan pendidik informasi dalam bentuk pengetahuan baru bagi siswa dengan menggunakan teks dan media yang berbeda. Menawarkan kesempatan baru untuk mempresentasikan.  

Pembelajaran literasi di sekolah dilaksanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Pada awalnya, pembelajaran literasi di sekolah hanya ditunjukkan agar siswa terampil dalam menguasai dimensi ilmu bahasa. Ilmu bahasa yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa antara lain mencakup fonem, morfem, grafofonemik, morfofonemik, dan sintaksis. Dalam berkembangan selanjutnya, pembelajaran literasi ditunjukkan agar siswa mampu menguasai dimensi kognitif literasi mencakup proses pemahaman, proses menulis, dan konsep analisis wacana tertulis. Literasi merupakan kemampuan membaca, menulis, berbicara menyimak dan memanfaatkan teknologi. Untuk itu literasi berperan penting dalam perkembangan era globalisasi agar seseorang dapat mengembangkan dirinya dibidang sosial, ekonomi dan budaya dari proses pembelajaran literasi

Sejalan dengan berkembanganya teknologi informasi dan komunikasi, pengertian literasi juga mengalami perkembangan lanjutan di era modern ini, istilah iterasi dikenal dengan istilah multiliterasi. C. Luke Kist, dalam Yunus Abidin menyatakan “bahwa multiliterasi merupakan kemampuan memandang pengetahuan

(pembelajaran) secara integratif, tematik, multimodal, dan interdisipliner”. Berdasarkan pernyataan tersebut upaya membangun makna dapat dilakukan dengan segala media yang dapat didekati dengan literasi yang menyimpan makna sehingga pengetahuan akan semakin berkembang yang dimana dapat di gali dan ditemukan.  

Baguley, Pullen dan Shrot dalam Yunus Abidin memandang multiliterasi sebagai cara untuk memahami secara lebih luas kurikulum literasi yang dipelajari di sekolah formal yang mendorong siswa agar mampu berpartisipasi secara produktif didalam komunitas masyarakat. Multiliterasi merupakan sebuah rencana dimana dapat digunakan untuk memahami berbagai jenis teks dan berbagai media yang dihasilkan berbagai teknologi baru yang memberikan pendidik peluang baru dalam menyajikan informasi berupa pengetahuan terbaru kepada siswa dengan menggunakan berbagai teks dan media.  

Pembelajaran literasi di sekolah dilaksanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Pada awalnya, pembelajaran literasi di sekolah hanya ditunjukkan agar siswa terampil dalam menguasai dimensi ilmu bahasa. Ilmu bahasa yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa antara lain mencakup fonem, morfem, grafofonemik, morfofonemik, dan sintaksis. Dalam berkembangan selanjutnya, pembelajaran literasi ditunjukkan agar siswa mampu menguasai dimensi kognitif literasi mencakup proses pemahaman, proses menulis, dan konsep analisis wacana tertulis. Literasi merupakan kemampuan membaca, menulis, berbicara menyimak dan memanfaatkan teknologi. Untuk itu literasi berperan penting dalam perkembangan era globalisasi agar seseorang dapat mengembangkan dirinya dibidang sosial, ekonomi dan budaya dari proses pembelajaran literasi.

D. Teknologi 

Teknologi berasal dari kata technologia (Yunani) techno, yang berarti “keterampilan” dan logia, yang berarti “pengetahuan”. Awalnya, pengertian teknologi terbatas pada benda-benda nyata seperti peralatan dan mesin. Seiring waktu, arti teknologi telah berkembang. Tidak hanya berwujud, tetapi juga tidak terlihat.

Perangkat lunak, metode pembelajaran, metode bisnis, pertanian, dan lain sebagainya. Menurut M Maryono,Teknologiadalah pengembangan dan penerapan berbagai peralatan atau sistem untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari- hari. Menurut Jacques Ellil, Teknologi adalah keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap kegiatan manusia menurut Gary J. Anglin, Teknologi merupakan penerapan ilmu- ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan lain secara bersistem dan mensistem untuk memecahkan masalah.[3]

Teknologi-Pendidikan

Secara historis bidang teknologi pendidikan lahir di Amerika Serikat yang pada saat itu sedang terlibat Perang Dunia II, sehingga memerlukan personel militer yang terampil dalam mengoperasikan peralatan perang, maka dari itu dibutuhkan pelatihan yang efektif. Pelatihan tersbut kemudia dikembangakan dengan memanfaatkan berbagai media dan simulator untuk meningkatkan kinerja personel militer, yang kemudian dikenal dengan istilah teknologi kinerja (performance technology). Pada saat itu perkembangan teknologi berkaitan erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimanfaatkan untuk mewujudkan kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien.[4]

Pada hakikatnya teknologi pendidikan mencakup upaya-upaya yang dapat bermanfaat untuk menciptakan proses pembelajran yang efektif dan efisien pada setiap individu. Hal ini sejalan dengan definisi teknologi pendidikan terbaru yang dikemukakan oleh The Association of Educational Communication and Technology – the AECT – yaitu: teknologi pendidikan dapat didefinisikan sebagai “…sebuah studi dan praktek etis yang digunakan untuk memfasilitasi berlangsungnya proses belajar dan memperbaiki kinerja memalui penciptaan, penggunaan, pengelolaan proyek, teknologi dan sumber daya yang tepat”.[5]

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teknologi pendidikan adalah “metode bersistem untuk merencanakan menggunakan, dan menilai seluruh kegiatan pengajaran dan pembelajaran dengan memperhatikan, baik sumber teknis maupun manusia dan interaksi antara keduanya, sehingga mendapatkan bentuk pendidikan yang lebih efektif”.[6] Sedangkan menurut Kandung (2014), teknologi pendidikan adalah suatu teori dan praktik dengan maksud membantu jalannya pembelajaran serta meningkatkan performa dengan menyusun, memanfaatkan, dan mengolah terkait proses serta sumber teknologi yang memadai. Teknologi pendidikan menjadi perantara dalam membantu jalannya proses pendidikan dengan maksud mencapai efektifitas, efisien, dan keberhasilan.[7]

Sedangkan menurut Tahir (2016) teknologi pendidikan merupakan suatu proses strategi terpadu dalam upaya memecahkan masalah pembelajaran.[8] Pendapat tersebut sependapat dengan Muffoletto dalam Selwyn (2011) yang berpendapat bahwa teknologi pendidikan bukan mengenai alat melainkan mengenai proses serta sistem yang mengarah pada hasil yang ingin dicapai. Selanjutnya Lestari (2018) berpendapat bahwa teknologi pendidikan merupakan sistem yang digunakan sebagai penunjang pembelajaran sehingga tercapai hasil yang diinginkan. Jadi dapat dikatakan bahwa teknologi pendidikan merupakan segala upaya yang dimaksud untuk memecahkan persoalan-persoalan terkait dengan pembelajaran.9

Di masa penyebaran pandemi Covid-19 yang serba terbatas ruang dan waktu, banyak aktivitas yang dibantu dengan adanya teknologi. Pendidikan dalam hal ini merupakan salah satu bidang yang sangat diuntungkan dengan kehadiran teknologi. Pembelajaran secara konvesional yang selama ini dilakukan dirasa menjadi sistem yang tepat dan nyaman dan menjadikan pemebelajaran dengan basis teknologi sebagai alternative. 

E. Efektivitas Pembelajaran 

Menurut Yusufhadi Miarso, efektivitas pembelajaran adalah yang menghasilkan belajar yang bermanfaat dan bertujuan bagi para mahasiswa, melalui prosedur pembelajaran yang tepat. Miarso melanjut bahasan tentang definisi efektivitas dengan menyatakan bahwa, efektivitas pembelajaran seringkali diukur dengan tercapainya tujuan pembelajaran, atau ketepatan dalam mengelola suatu situasi. Beberapa hal yang terkandung dalam definisi ini, yakni efektivitas pembelajaran merupakan kegiatan edukatif yang memiliki ciri, yaitu   

  • beristem (sistemik), yang dilakukan melalui tahap perencanaan, pengembangan, pelaksanaan, penilaian, dan penyempurnaan. 
  • sensitive terhadap kebutuhan akan tugas belajar dan kebutuhan pembelajar.  

Pusat Pengaji Bahasa, Tamadun dan Falsafah, Kolej Sastera Sains, Universitas Utara Malaysia, 2016), hlm. 86.

9 Lestari Sudarsri, “Peran Teknologi Dalam Pendidikan Di Era Globalisasi”, 2 Nov 2018. Dari https://doi.org/10.33650/edureligia.v2i2.459, diakses 20 juli 2021

  • kejelasan akan tujuan dank arena itu dapat dihimpun usaha untuk mencapainya.  
  • bertolak dari kemampuan atau kekuatan peserta didik, pendidik, masyarakat, dan pemerintah. 

Menurut Yusufhadi Miarso, efektivitas pembelajaran adalah yang menghasilkan belajar yang bermanfaat dan bertujuan bagi para mahasiswa, melalui prosedur pembelajaran yang tepat. Miarso melanjut bahasan tentang definisi efektivitas dengan menyatakan bahwa, efektivitas pembelajaran seringkali diukur dengan tercapainya tujuan pembelajaran, atau ketepatan dalam mengelola suatu situasi. Beberapa hal yang terkandung dalam definisi ini, yakni efektivitas pembelajaran merupakan kegiatan edukatif yang memiliki ciri, yaitu: 

  • beristem (sistemik), yang dilakukan melalui tahap perencanaan, pengembangan, pelaksanaan, penilaian, dan penyempurnaan. 
  • sensitive terhadap kebutuhan akan tugas belajar dan kebutuhan pembelajar.  
  • kejelasan akan tujuan dank arena itu dapat dihimpun usaha untuk mencapainya.  
  • bertolak dari kemampuan atau kekuatan peserta didik, pendidik, masyarakat, dan pemerintah. 

Menurut Astim Riyanto pembelajaran diartikan berhasil guna atau tepat guna, atau mencapai tujuan atau pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam hal ini efektifitas pembelajaran atau pembelajaran yang efektif adalah usaha yang membuahkan hasil atau menghasilkan belajar yang bermanfaat dan bertujuan bagi para mahasiswa, melalui pemakaian prosedur yang tepat. Dalam definisi ini kata efektifitas pembelajaran mengandung dua indicator penting, yaitu terjadinya belajar pada mahasiswa dan apa yang dilakukan dosen. Dengan demikian, prosedur pembelajaran yang dipakai oleh dosen dan bukti mahasiswa belajar akan dijadikan fokus dalam usaha pembinaan efektifitas pembelajaran (Yusufhadi Miarso Sedangkan menurut Gaff dalam Miarso pembelajaran yang efektif meliputi bagaimana membantu mahasiswa untuk mencapai tujuan belajar. 

Efektifitas pembelajaran tidak lain adalah usaha pembelajaran yang berkriteria daya tarik atau daya guna, artinya dengan pemanfaatan seperangkat karakteristik tersembunyi dosen menolong siswa mencapai tujuan pembelajaran. Dengan kata lain efektifitas adalah salah satu indicator dari proses pembelajaran yang baik. Indikator lainnya adalah efisiensi dan produktifitas.  Dua istilah yang disebut diatas yaitu efisiensi dan produktivitas merupakan dua istilah yang berhubungan dengan efektivitas. Dikatakan demikian karena Menurut Miarso, produktivitas pembelajaran adalah hasil yaitu lulusan, karya tulis, penelitian, dan sebagainya bertambah, dengan pengurangan masukan, atau tanpa pertambahan masukan; atau dengan tambahan masukan sedikit tetapi pertambahan hasilnya lebih besar; atau pertambahan masukan yang banyak dengan hasil yang jauh lebih banyak. Sedangkan efisiensi pembelajaran adalah kesepadanan antara waktu, biaya, dan tenaga yang digunakan dengan hasil yang diperoleh. Cirinya adalah organisasi yang rapi, misalnya lingkungan atau latar yang teratur, pembagian tugas seimbang, dan pelaksanaan yang tertib, dan usaha yang tidak berlebihan.

Menurut Ravianto, efektivitas merupakan sebuah tolak ukur seberapa baik suatu pekerjaan dilakukan. Artinya suatu pekerjaan dianggap efektif jika diselesaikan sesuai dengan perencanaan, baik waktu, biaya, maupun mutunya. Pengertian efektivitas sesuai dengan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 adalah merupakan pencapaian hasil program dengan target yang telah ditetapkan, yaitu dengan cara membandingkan keluaran dengan hasil. Sedangkan secara efektivitas menunjukkan pada taraf tercapainya hasil, atau dalam bahasa sederhana hal tersebut dapat dijelaskan bahwa: efektifitas dari pemerintah daerah adalah bila tujuan pemerintah daerah tersebut dapat dicapai sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan. Menurut Mardiasmo sebagaimana dikutip Alisman menyatakan bahwa efektivitas yaitu suatu keadaan tercapainya tujuan yang diharapkan atau dikehendaki melalui penyelesaian pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. Dimana ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi adalah bila telah mencapai tujuan, maka dapat dikatan organisasi tersebut dikatakan telah berjalan efektif.

Dari pendapat di atas, maka efektivitas dapat diartikan sebagai sebuah pencapaian yang ingin dicapai oleh organisasi. Efektivitas berorientasi pada aspek tujuan suatu organisasi, jika tujuan tersebut tercapai, maka dapat dikatakan efektif. Efektivitas pembelajaran menurut Rohmawati adalah ukuran keberhasilan dari suatu proses interaksi antar siswa maupun antara siswa dengan guru dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dapat dilihat dari aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung, respon siswa terhadap pembelajaran dan penguasaan konsep siswa. Untuk mencapai suatu konsep pembelajaran yang efektif dan efisien perlu adanya hubungan timbal balik antara siswa dan guru untuk mencapai suatu tujuan secara bersama, selain itu juga harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekolah, sarana dan prasarana, serta media pembelajaran yang dibutuhkan untuk membantu tercapainya seluruh aspek perkembangan siswa. Maka dari itu, bahwa pada pokoknya efektivitas pembelajaran dapat diartikan sebagai tolak ukur keberhasilan dari sebuah proses pembelajaran antara siswa dengan siswa, atau siswa dengan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran.  

BAB III PEMBAHASAN

A. Efektivitas Program Pembelajaran Jarak jauh Terhadap Kondisi Pendidikan

di Indonesia 

1. Metode Pembelejaran Elektronik 

Jika melihhat dari arti kata efektivitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) definisi efektifitas adalah suatu yang memiliki pengaruh atau akibat yang ditimbulkan, manjur, membawa hasil dan merupakan keberhasilan dari suatu usaha atau tindakan. Sedangkan menurut Kusumah (2020: 10-11) efektif merupkan sebuah ukuran untuk mengatakan bahwa sebuah tujuan atau target yang diinginkan telah tercapai. Sementara selanjutnya, efektivitas pembelajaran adalah ukuran keberhasilan dari suatu proses interaksi atarsiswa maupun antara siswa dan guru dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hal yang sama juga dikatakan Zen dan Syafril (2017: 182) menurutnya, pendidikan dikatakan efektif (ideal) ialah bila hasil yang dicapai sesuai dengan rencana atau program yang dibuat sebelumnya (tepat guna).  

Sedangkan Susanto mnegatakan (2016: 54) hasil pembelajaran dapat dikatakan efektif apabila terjadi perubahan tingkah laku yang positif dan tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Adapun menurut Susanto (2016: 54-55) beberapa aspek yang harus diperhatikan untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif, di antaranya:  

  1. Guru dituntut untuk dapat membuat persiapan mengajar yang sistematis; 
  2. Proses pembelajaran yang berkualitas dengan adanya penyampaian materi oleh guru dengan menggunakan berbagai variasi didalam penyampaian; 
  3. Waktu yang digunakan dalam proses pembelejaran berlangsung efektif; 
  4. Guru dan siswa memiliki motivasi yang tinggi; 
  5. Terjalin hubungan interaktif yang baik antara guru dan siswa.[9] 

Namun jika melihat kondisi pada saat ini khususnya pada masa Pandemi Covid-19 saat ini sedang yang sedang melanda dunia tak terkecuali di Indonesia. Pemerintah Indoenesia telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka penularan Covid-19. Salah satunya adalah dengan memberikan himbauan belajar di rumah bagi para siswa dan mahasiswa (SFH). Proses pembelajaran dilakukan secara daring. Kondisi seperti ini tentu akan mengubah metode pembelajaran tatap muka dengan metode pembelajaran daring atau E-Learning. Metode daring atau ELearning adalah metode yang pertama kali disarankan oleh Kemendikbud untuk mengantisipasi aktivitas pembelajaran selama masa Pandemi Covid-19 ini. Pembelajaran daring dilakukan dengan memanfakaatkan fasilitas yang ada di rumah masing-masing siswa ataupun mahasiswa, tanpa adanya pertemuan tatap muka secara langsung. Kemudian terdapat beberapa macam metode pemebajaran secara daring diantaranya:

a) Project Based Learning 

Metode project based learning ini diprakarsai oleh hasil implikasi Surat Edaran Mendikbud no.4 Tahun 2020. Project based learning ini memiliki tujuan utama untuk memberikan pelatihan kepada pelajar untuk lebih bisa berkolaborasi, gotong royong, dan empati dengan sesama. Metode project based learning ini sangat efektif diterapkan untuk para dengan membentuk kelompok belajar kecil dalam mengerjakan projek, eksperimen, dan inovasi. Metode pembelajaran ini sangatlah cocok bagi pelajar yang berbeda pada zona kuning atau hijau. Dengan menjalankan metode pembelajaran yang satu ini, tentunya juga harus memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku. 

b) Luring Method 

Luring methode adalah model pembelajaran yang dilakukan di luar jaringan. Dalam artian, pembelajaran yang satu ini dilakukan secara tatap muka dengan memperhatikan zonasi dan protokol kesehatan yang berlaku. Metode ini sangat pas buat pelajar yang ada di wilayah zona kuning atau hijau terutama dengan protokol ketat new normal. Dalam metode yang satu ini, siswa akan diajar secara bergiliran (shift model) agar menghindari kerumunan. Model pembelajaran Luring ini disarankan oleh Mendikbud untuk memenuhi penyederhanaan kurikulum selama masa darurat pendemi ini. Metode ini dirancang untuk menyiasati penyampaian kurikulum agar tidak terlalu sulit saat disampaikan kepada siswa. Selain itu, pembelajaran yang satu ini juga dinilai cukup baik bagi mereka yang kurang atau tidak memiliki sarana dan prasarana yang mendukung untuk sistem daring.

c) Daring Method  

Metode ini memanfaatkan jaringan online, dan bisa membuat para siswa kreatif menggunakan fasilitas yang ada, seperti membuat konten dengan memanfaatkan barangbarang di sekitar rumah maupun mengerjakan seluruh kegiatan belajar melalui sistem online. Metode ini sangat cocok diterapkan bagi pelajar yang berada pada kawasan zona merah. Dengan menggunakan metode full daring seperti ini, sistem pembelajaran yang disampaikan akan tetap berlangsung dan seluruh pelajar tetap berada di rumah masingmasing dalam keadaan aman.

d) Home Visit Method 

Home visit merupakan salah satu opsi pada metode pembelajaran saat pandemi ini. Metode ini mirip seperti kegiatan belajar mengajar yang disampaikan saat home schooling. Jadi, pengajar mengadakan home visit ke rumah pelajar dalam waktu tertentu. Dengan demikian, materi yang akan diberikan kepada siswa bisa tersampaikan dengan baik, karena materi pelajaran dan tugas langsung terlaksana dengan baik dibawah bimbingan guru. 

e) Intergratted Curricullum 

Metode ini akan lebih efektif bila merujuk pada project base, yang mana setiap kelas akan diberikan projek yang relevan dengan mata pelajaran terkait. Dalam metode ini tidak hanya melibatkan satu mata pelajaran saja, namun juga mengaitkan materi pembelajaran dari mata pelajaran lainnya. Dengan menerapkan metode ini, selain pelajar yang melakukan kerjasama dalam mengerjakan projek, guru lain juga diberi kesempatan untuk mengadakan team teaching dengan guru pada mata pelajaran lainnya. Integrated curriculum bisa diaplikasikan untuk seluruh pelajar yang berada di semua wilayah, karena metode ini akan diterapkan dengan sistem daring. Jadi pelaksanaan integrated curriculum ini dinilai sangat aman bagi pelajar. 

f) Blended Learning 

Metode blended learning adalah metode yang menggunakan dua pendekatan sekaligus. Dalam artian, metode ini menggunakan sistem daring sekaligus tatap muka melalui video converence. Jadi, meskipun pelajar dan pengajar melakukan pembelajaran dari jarak jauh, keduanya masih bisa berinteraksi satu sama lain. Metode ini efektf untuk meningkatkan kemampuan kognitif para pelajar.

g) Pembelajaran Melalui Radio 

Pembelajaran melalui radio menjadi inovasi pembelajaran masa pandemi covid-19 di kabupaten Ogan Komering Ulu. Metode ini merupakan kerjasama Dinas Pendidikan kabupaten Ogan Komering Ulu dengan Radio Sukses yang merupakan radio pemerintah daerah. Metode ini menjadi salah satu cara dalam mengatasi kesulitan akses internet dan solusi bagi orang tua siswa yang tak memiliki telepon pintar (smart phone). Pembelajaran dilakukan oleh guru yang berkompeten bersama siswa yang menjadi model dan juga interaktif bersama siswa yang menjadi pendengar. Untuk jenjang PAUD dilaksanakan setiap hari Rabu dengan sistem CERIBEL (Cerita Sambil Belajar), jenjang SD setiap hari Selasa, dan jenjang SMP setiap hari Sabtu.[10] 

2. Penerapan Metode Pembelajaran 

Pandemi Covid-19 ini memaksa seluruh warga dunia tak terkecuali masyarakat di Indonesia untuk mendefinnisikan hidup, tujuan pembelajaran dan hakikat kemanusiaan. Jika selama ini manusia-manusia dipaksa hidup dalam situasi serba cepat, pekerjaan tanpa henti, dan kerjaan target pertumbuhan ekonomi dalam sistem kompetisi. Namun, persebaran virus Covid-19 yang menjadi krisis besar manusia modern, memaksa kita untuk sejenak bernafas, berhenti dari pusaran sistem, serta melihat kembali kehidupan, keluarga, dan lingkungan sosial dalam arti yang sebenarnya. Manusia dipaksa ‘berhenti’ dari rutinitasnya, untuk memaknai apa yang sebenarnya dicari dari kehidupan. Indonesia memiliki tantangan besar dalam penanganan Covid19. Dari semua aspek yang menjadi tantangan saat ini, saya konsentrasi pada aspek pendidikan, yang esensial untuk didiskusikan. Aspek pendidikan menjadi konsentrasi penulis, karena telah berpuluh tahun bergelut di bidang ini dalam kapasitas sebagai peneliti, praktisi hingga perumus kebijakan. Pandemi Covid-19 memaksa kebijakan social distancing, atau di Indonesia lebih dikenalkan sebagai physical distancing (menjaga jarak fisik) untuk meminimalisir persebaran Covid-19. Jadi, kebijakan ini diupayakan untuk memperlambat laju persebaran virus Corona di tengah masyarakat. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) merespon dengan kebijakan belajar dari rumah, melalui pembelajaran daring dan disusul peniadaan Ujian Nasional untuk tahun ini. Persebaran virus Corona yang massif di berbagai negara, memaksa kita untuk melihat kenyataan bahwa dunia sedang berubah. Kita bisa melihat bagaimana perubahanperubahan di bidang teknologi, ekonomi, politik hingga pendidikan di tengah krisis akibat Covid-19. Perubahan itu mengharuskan kita untuk bersiap diri, merespon dengan sikap dan tindakan sekaligus selalu belajar hal-hal baru. Indonesia tidak sendiri dalam mencari solusi bagi peserta didik agar tetap belajar dan terpenuhi hak pendidikannya.  Sampai 1 April 2020, UNESCO mencatat setidaknya 1,5 milyar anak usia sekolah yang terdamapk Covid 19 di 188 negara termasuk 60 jutaan diantaranya ada di negara kita.  

Semua negara terdampak telah berupaya membuat kebijakan terbaiknya dalam menjaga kelanggengan layanan pendidkan. Indonesia juga menghadapi beberapa tantangan nyata yang harus segera dicarikan solusinya: (1) ketimpangan teknologi antara sekolah di kota besar dan daerah, (2) keterbatasan kompetensi guru dalam pemanfaatan aplikasi pembelajaran, (3) keterbatasan sumberdaya untuk pemanfaatan teknologi Pendidikan seperti internet dan kuota, (4) relasi guru-muridorang tua dalam pembelajaran daring yang belum integral. Pemberlakuan kebijakan physical distancing yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan belajar dari rumah, dengan pemanfaatan teknologi informasi yang berlaku secara tiba-tiba, tidak jarang membuat pendidik dan siswa kaget termasuk orang tua bahkan semua orang yang berada dalam rumah. Pembelajaran teknologi informasi memang sudah diberlakukan dalam beberapa tahun terakhir dalam sistem pendidikan di Indonesia. Namun, pembelajaran daring yang berlangsung sebagai kejutan dari pandemi Covid-19, membuat kaget hampir di semua lini, dari kabupaten/kota, provinsi, pusat bahkan dunia internasional.  

Sebagai ujung tombak di level paling bawah suatu lembaga pendidikan, kepala sekolah dituntut untuk membuat keputusan cepat dalam merespon surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang mengharuskan sekolah untuk memberlakukan pembelajaran dari rumah.  

Pendidik merasa kaget karena harus mengubah sistem, silabus dan proses belajar secara cepat. Siswa terbata-bata karena mendapat tumpukan tugas selama belajar dari rumah. Sementara, orang tua murid merasa stress ketika mendampingi proses pembelajaran dengan tugas-tugas, di samping harus memikirkan keberlangsungan hidup dan pekerjaan masing-masing di tengah krisis. Jadi, kendala-kendala itu menjadi catatan penting dari dunia pendidikan kita yang harus mengejar pembelajaran daring secara cepat. Padahal, secara teknis dan sistem belum semuanya siap. Selama ini pembelajaran online hanya sebagai konsep, sebagai perangkat teknis, belum sebagai cara berpikir, sebagai paradigma pembelajaran. Padahal, pembelajaran online bukan metode untuk mengubah belajar tatap muka dengan aplikasi digital, bukan pula membebani siswa dengan tugas yang bertumpuk setiap hari. Pembelajaran secara online harusnya mendorong siswa menjadi kreatif mengakses sebanyak mungkin sumber pengetahuan, menghasilkan karya, mengasah wawasan dan ujungnya membentuk siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat.[11] 

3. Metode Pembelajaran Jarak Jauh Yang Tidak Merata 

Seperti yang sudah disinggung dalam pembahasan diatas akibat dari merebaknya kasus Pandemi Covid-19 di Indonesia pemerintah pun harus memberlakukan beberapa aturan yang sifatnya mencegah penularan virus Covid19, seperti melakukan pembatasan untuk bertemu dan hal-hal yang bisa membuat keaddaan ramai atau berkerumun dimana hal tersebut pun berlaku hingga dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan Pemerintah secara tegas memerintahkan dalam surat edarannya, bahwa pembelajaran haruslah dilakukan di rumah masingmasing melalui metode daring atau jarak jauh yang lantas hal ini menimbulkan ketidaksinambungan. Hal ini merupakan hal baru dalam dunia pendidikan di Indonesia, selain baru metode daring seperti ini juga datang secara tiba-tiba seriring merebaknya virus Covid-19. Namun, sebagian tingkat pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi suda mulai menggunakan pembelajaran dengan metode daring seperti menggunakan aplikasi Google Meet, Zoom Meeting, dan Google Classroom sebagai medianya. Tapi terkadang terjadi beberapa hambatan dan kendala jika harus menggunakan metode pembelajaran melalui daring ini karena cukup banyak kita jumpai bahwa aktivitas perpindahan ilmu ini harus terhambat oleh beberapa kendala seperti gangguan jaringan internet, juga pemborosan uang karena harus membeli pulsa ataupun kuota internet.  

Lantas hal ini jadi problematika tatkala disinggung terkait konektivitas internet di negara Indonesia apakah sudah layak untuk digunakan untuk penggunaan pembelajaran jarak jauh atau hanya dipaksakan saja. Kecepatan koneksi internet rata-rata Indonesia nyaris terendah dibandingkan dengan lebih dari 40 negaralainnya. Berdasarkan riset yang dirilis oleh Hootsuite, pada Januari 2020, bahwa kecepatan Internet Indonesia rata-rata hanya 20,1 Mbps atau jauh di bawa rata-rata dunia (worldwide) yang mencapai 73,6 Mbps. Hal ini oleh Johnny Gerald Pate dijabarkan menjadi enam faktor, diantaranya adalah faktor geografis yang sangat luas serta kondisi yang berbeda-beda seperti memiliki kontur pegunungan dan banyak sungai, kondisi ini menyebabkan kendala terhadap pembangunan infrastuktur fisik termasuk infrastruktur telekomunikasi. Kedua, tidak meratanya infrastruktur khsusunya untuk jaringan yang berhubungan langsung dengan pelanggan. Masyarakat pada umumnya Indonesia menggunakan jaringan seluler (mobile broadband) sebagai jaringan aksesnya. Selain itu, angka pengguna yang besar juga berpengaruh terhadap statistik yang mempengaruhi nilai-nilai hasil pengukuran. Adapun faktor kelima, masih perlunya pembangun jaringan the last mile serat optic dan perangkat elektronik lainnya sebagai pendukung Palaparing. Infrastruktur ini untuk menjangkau wilayah kecamatan dan desa sampai pemukiman pengguna internet di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). dan yang terakhir atau faktor keenam adalah diduga adanya bias dari metodologi yang digunakan Hootsuite. Johnny mengatakan, bahwa setiap penyedia pengukuran memiliki metodologi pengukuran berbeda-beda. Sehingga seumpama dibuat komparasi, akan melahirkan perdebatan terkait metodologi serta bias dalam pengambilam sampling yang dilakukan.[12] 

Terkait apa yang sudah disebutkan dalam penjelasan di atas, bahwa dapat dikatakan karena masih minimnya konektivitas laju internet di Indonesia yang dibawah rata-fata maka timbul beberapa hal negative yan timbul dari pembelajaran metode daring atau jarak jauh ini, seperti kurangnya informasi kepada peserta didik dan yang utama kurangnya sarana dan prasarana untuk menunjang pembelajaran jarak jauh terlebih di daerah pelosok. Tak hanya itu selain sulitnya mendapatkan konektifitas internet mereka pun sudah kessahan dalam segi alat penunjang belajar online yang mana daeerah pelosok yang tadinya sudah kesulitan sebelum terjadi pandemi Covid19, sekarang mereka menjadi lebih sulit karena diharuskan melakuka pembelajaran jarak jauh. Kesulitan dalam Pembelajaran Jarak Jauh yang dialami masyarakat di daerah pelosok antara lain, kualitas internet yang kurang memadai akibat perbedaan geografis, tidak semua teknologi seperti handphone dan laptop meraka miliki, serta guru yang tidak bisa mendampingi proses belajar akibat dari peserta didiknya tidak memiliki teknologi untuk berkomunikasi dan di perparah dengan kondisi ekonomi masyarakat pelosok yang tak menentu atau cenderung sulit. Salah satu contoh kesulitan dalam Pembelajaran Jarak Jauh di daerah pelosok, terjadi di desa Sindang Teri, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung.  Karena pelosoknya desa Sindang Teri mengakibatkan anak-anak di desa tersebut harus bersekolah di desa tetangga, karena desa tersebut tidak memiliki sekolah. Hingga seorang guru dari SD desa tetangga, yaitu SD Negeri Tunas Asri, yang sering dipanggil Bu Umi atau bernama lengkap Umi Latifah ini memutuskan untuk menyambangi rumah muridmuridnya yang tinggal di desa Sindang Teri untuk memberi pelajaran tambahan atau les private. Desa Sindang Teri berada cukup jauh dari tempat tinggal beliau sehingga beliau harus mengendarai sepeda motor. Beliau melakukan hal tersebut dikarenakan tidak ingin memberatkan orang tua murid yang harus memiliki smartphone atau laptop untuk melakukan Pembelajaran Jarak Jauh, karena kondisi ekonomi orang tua murid yang kebanyakan cenderung sulit. Dalam menjalankan hal ini beliau didukung oleh pihak sekolah, Dukungan tersebut berupa dukungan finansial yang tidak banyak, beliau manfaatkan dukungan finansial tersebut untuk biaya transport guna menyambangi rumah murid-muridnya di desa Sindang Teri. Bagi muridnya yang beruntung masih bisa memiliki smartphone atau yang berada di desa Tunas Asri, mereka masih harus berusaha mencari sinyal agar bisa terhubung dengan guru supaya dapat menyimak materi yang diberikan, dan tak jarang murid yang memiliki smartphone pun terkadang harus absen dari Pembelajaran Jarak Jauh karena terkendala sinyal atau bahkan kuota internet yang mereka miliki tidak cukup.[13] 

B. Indonesia Mengeskalasi Program Pembelajaran Jarak Jauh di masa

Pandemi Covid-19

1. Peran Pemerintah mendongkrak Program Pembelajaran Jarak Jauh

dimasa Pandemi

Penyebaran pandemi Covid-19 di hampir 200 negara memberi dampak hebat dibanyak aspek termasuk pendidikan. Tidak ada negar yang siap menghadapi penyebaran pandemi ini, setiap negara yang terdampak penyebaran pandemic lebih dulu menjadi gambaran contoh bagi negara lain untuk melakukan tindakan preventif, meskipun terdapat perbedaan tatanan politik, sosial, budaya, ekonomi dan pendidikan di setiap negara. Indonesia melalui Pemerintah telah mengeluarkan banyak kebijakan terkait pencegahan penyebaran pandemi Covid-19, yang memperhatikan arahan WHO yang dalam pembukaan pidato sekretaris jendralnya menyampaikan agar pemangku kebijakan di tiap negara mempertimbangkan tiga hal dalam kebijakannya di masa penyebaran pandemic Covid-19 yakni pertama, perlunya pemahaman yang jelas mengenai perkembangan penularan Covid-19 dan seriusnya virus bagi anak-anak. Kedua, memeperhatikan laoporan epidemologi Covid-19 di wilayah sekolah yang akan dibuka.  Ketiga, mempertimbangkan kemampuan untuk mengelola pencegahan Covid-19 dan kebijakan mengontrolnya dalam lingkup persekolahan. Selain itu, pemerintah diharuskan mempertimbangkan kapasitas setiap sekolah untuk mengelola kemungkinan penularan, pencegahan, dan pengawasan. 

Belajar dari rumah meupakan kenijakan pemerintah yang memaksa gerakan massif pembatasan sosial yang memberi batasan ruang dan waktu pada setiap kegitan rutin dalam sistem pembelajaran di Indonesia. kegiatan belajar mengajar yang lazimnya berlangsung dalam ruang kelas yang menciptakan interaksi antaranya menjadi kegiatan belajar mengajar di ruang masing-masing yang memberi dampak minimnya interaksi dalam transfer ilmu. Berikut beberapakebijakan pemerintah di awal masa penyebaran pandemi Covid-19 dalam aspek pendidikan:[14]

  • Maret 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merespon perkembangan penyebaran Covid-19 dibidang pendidikan melalui diterbitkannya Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 yang Lima Protokol kesehatan penanganan Covid-19 yang diterbitkan oleh KSP. Protocol di area institusi pendidikan didalamnya diatur beberapa hal, antara lain perlunya koordinasi dengan dinas pendidikan setempat, penyediaan sarana cuci tangan dengan sabun, pembersihan lingkungan sekolah, melakukan skrining awal terhadap warga sekolah yang mengalami keluhan sakit, hingga menunda kegiatan mengumpulkan banyak orang. 
  • 17 Maret 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merespon perkembangan penyebaran Covid-19 dibidang pendidikan melalui diterbitkannya Surat Edaran nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran covid-19. Surat ini diajukan kepada seluruh kepala dinas pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Didalammnya memuat imbauan untuk mengikuti prookol pencegahan Covid-19, yang menghimbau untuk menunda penyelenggaraan kegiatan yang mengundang banyak peserta atau menggantikannya dengan video conference atau via komunikasi daring lainnya. Khusus untuk daerah yang terdamoak Covid-19, diberlakukan pembelajaran dari rumah secar adaring sebagai strategi pemenuhan hak pendidikan selama pandemic.
  • 24 Maret 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merespon perkembangan penyebaran Covid-19 dibidang pendidikan melalui diterbitkannya Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalm masa darurat penyebaran covid-19. Memuat proses pemeblajaran jarak jauh atau belajar dari rumah, semangat dasar pembelajaran daring, fokus belajar dari rumah, aktivitas dan tugas pembelajaran selama belajar dari rumah, serta peran pengajar dalam memberi umpan balik. Diikuti dengan Surat Edaran Sekretaris Jendral Kemendikbud nomor 15 tahun 2020 tentang pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah (BDR) dalam masa darurat penyebaran covid-19 pada mei 2020. Pedoman ini dibuat untukmengatur penyelenggaraan belajar lebih terperinci, memastikan pemenuhan hak anak dalam mendapatkan layanan pendidikan selama darurat penyebaran covid-19, melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk covid-19, dan mencegah klaster penyebaran covid-19 baru, dan memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta dididk dan orang tua atau wali.

Terdapat dua mekanisme pembelajaran jarak jauh yakni secara daring dan luring sesuai dengan ketersediaan dan kesiapan sarana dan prasarana. Pembelajaran jarak jauh secara daring dapat menggunakan sumber yang diambil dari Rumah Belajar Pusdatin Kemendikbud, TV EDUKASI Kmendikbud, Pembelajaran Digital oleh Pusdatin dan SEAMOLEC Kmendikbud, hingga mengambil dari berbagai buku digital yang tersedia di Internet. BPembelajaran jarak jauh secara luring menerapkan pembelajaran melalui media dan sumber pembelajaran yang diambil dari televisi, radio, modul belajar mandiri dan lembar kerja, bahan ajaran cetak dan alat peraga dari lingkungan sekitar.

  • 16 Mei 2020, Gugus TugasPercepatan Penanganan Covid-19 mengeluarkan Paket Panduan lintas Sektor Tanggap Covid-19 Menuju Situasi “Normal Baru” yang memuat lingkungan pendidikan. Panduan lintas sectoral ini sudah memasukan variable baru, yakni kemungkinan menciptakan situasi normal yang baru, termasuk persiapan situasi normal yang baru dalam bindang pendidikan. Dalam panduan ini bidang pendidikan di situasi darurat memuat implementasi protocol sekolah aman untuk mencegah Covid-19, penutupan sekolah dan keberlanjutan pebelajaran, monitoring, evaluasi serta alat bantu penunjang yang dibutuhkan.
  • 15 Juni 2020. Melalui Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam

Negeri menetapkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran Baru Pada Masa Pandemic Covid-19. Panduan ini berusahan memberikan hak pendidikan ditengah situasi pandemic. Dalam panduan pendidikan pada masa pandemic Covid-19 menggunakan prinsip “kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat merupakan prioritas utama dalam menetapkan kebijakan pembelajaran”. Ditetapkan bahwa sekolah yang berada di zona kuning, oranye, dan merah resiko penularan Covid19 dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan, dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dari rumah. Sekolah yang berada di zonahijau bisa melakukan pembelajaran tatap muka dengan protocol yang sangat ketat, yakni pertama, sekolah harus mendapatkan izin dari Pemerintahan Daerah/Kantor Wilayah/Kantor Kemenag untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka. Lembaga yang memberikan izin tersebut sebelumnya perlu mendapatkan persetujuan dari kepala Gugus Tugas Penanganan Covid-19 tingkat daerah untuk mengeluarkan izin kegiatan belajar mengajar secara tatap muka, dan memenuhi daftar periksa standar kesiapan pembelajaran tatap muka. Daftar kesiapan tersebut yakni ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan, tersedia akses fasilitas layanan kesehatan, siap menerapkan area wajib masker, memiliki thermogun, mampu memetakan warga sekolah yang tidak boleh melakukan kegiatan di sekolah, membuat kesepakatan bersama komite sekolah untuk memulai pembelajaran tatap muka. Panduan ini pula memuat keleluasaan bagi orang tua yang merasa anak belum siap untuk melakukan pembelajaran tatap muka dan melakukan pembelajaran dari rumah. Untuk pembelajaran tatap muka dilaksanakan secara bertahap dari masa transisi selama dua bulan pertama dan masa kebiasaan baru. Untuk keberlangsungan kegiatan belajar mengajar tatap muka, kemendikbud merilis pemetaan zonasi resiko penularan Covid19 yang merupakan peta dinamis yang dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti update penyebaran Covid-19. Penetapan zona resiko penularan Covid-19 dianalisis secara mingguan. Ketika sekolah yang terletak di zona hijau berubah statusnya menjadi zona kuning, oranye, atau merah. Sekolah tersebut wajib tutup dan prosesnya diulang kembali dari awal.

Terlihat bagaimana kebijakan ini merupakan hal yang sulit bagi kondisi pendidikan di Indonesia mengingat unsur dalam kegiatan belajar mengajar, baik pengajar, siswa-mahasiswa, sarana belum bahkan tidak cukup untuk melakukan kegiatan belajar mengajar dari rumah atau berbasis IT. 

2. Penerapan metode pembelajaran jarak jauh di negara-negara lain

Jennifer Nuzzo, ilmuwan John Hopkins Bloomberg School of Public Health, mengatakan tidak ada satu pun negara yang benar-benar siap mengahadapi pandemic Covid-19. Peneyebaran pandemic Covid-19 yang merata secara luas mengharuskan negara mengantisipasi kesulitan dan mengatasi dampak yang ditimbulkan di segala bidang termasuk pendidikan. Tidak hanya di Indonesia, penerapkan metode pembelajaran jarak jauh dibanyak negara dilangsungkan, bukan keputusan yang mudah menghentikan kegiatan di sekolah akan ada masalah baru lainnya yang timbul, tapi setidaknya dengan menghentikan kegiatan di sekolah prioritas menghentikan penyebaran pandemic Covid-19 dengan mengurangi mobilitas manusia akan membantu memperlambat penyebaran Covid-19.

Beberapa negara di Eropa misalnya seperti Prancis, Denmark, German, Norway dan Sweden membuka kembali sekolah dan melangsungkan kegiatan belajar mengajar di ruang kelas dengan protocol yang ketat. Dalam hal ini Irlandia melakukan penelitian yang mendapat hasil bahwa tidak terlihat penularan sekunder dari kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Dilakuakan tes pada 56.000 pelajar, dari tes tersebut hanya didapat dua sempel dimana pelajar menularkan Covid-19 ke rumah, dan didapat sebaliknya lebih banyak ornag tua yang menularakan Covid-19 pada anak.[15]

Kemudian Amerika dengan sistem belajar-mengajarnya yang sulit diterapkan bila harus social distancing. Diawal penyebaran pandemi Covid-19 di 28 negara bagian, ada sekitar 48% murid tidak mendapat intruksi untuk melakukan pembelajaran jarak jauh, yang menyebabkan banyak pelajar tidak mendapat kesempatan belajar di masa penyebaran pandemi Covid-19. Menurut hasil penelitian pelajar di Amerika dibagi menjadi tiga kategori yakni pertama, pelajar yang disebut quality remote learning, tipikal pelajar yang dapat beradaptasi dengan baik, memiliki akses, dan dapat menangkap materi pembelajaran online dengan baik. Kedua pelajar yang semakin lama menjalani kelas online, semakin kelelahan dan kesulitan menangkap materi pembelajaran online (low quality), dan ketiga pelajar yang sama sekali tidak mendapat intruksi dari lembaga pendidikan dan merupakan pelajar yang rentan drop out.[16]

Korea Selatan yang melakukan kegiatan belajar mengajar dari rumah setelah dideteksi adanya penyebaran pandemi Covid-19. Pemerintah Korea berusaha kembali melangsungkan kegiatan belajar mengajar di kelas namun tidak lama kegiatan tersebut berlangsung ditemukan kasus penyebaran pandemi Covid-19 baru klaster sekolah, memaksa pemerintah menutup kembali sekolah, melangsungkan kegiatan belajar mengajar dari rumah bahkan tidak melangsungkan kegiatan belajar mengajar secara online dan membuat beberapa pelajar hanya melangsungkan les privat dan mendapat tugas berkal-kali lipat lebih banyak dari sebelumnya.[17]

Pada akhirnya tidak ada negara yang siap menghadapi ini terutama di bidang pendidikan keputusan yang sangat sulit untuk menutup sekolah dan menggantikannya dengan sistem belajar dari rumah secara daring. Terdapat banyak kekurangan dari sistem belajar dari rumah untuk transfer ilmu, selain itu penyebarannya yang cepat dan massif membuat unsur-unsur dalam pendidikan tidak memiliki kesempatan menyiapkan diri. Terlebih dari banyaknya kekurangan dan masalah baru dalam sistem belajar dari rumah, kembali bahwa fokus utama pemerintah Indonesia juga Pejabat negara-negara di dunia yakni menghentikan penyebaran Covid-19. 

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Menjalankan segala bentuk aktivitas masa pandemi covid-19 ini memang penuh dengan hambatan dikarenakan kita sebagai manusia dituntut mau tidak mau harus bersinggungan secara langsung dengan keadaan yang terjadi saat ini. Yang paling pahit adalah, jumlah kasus covid-19 di Indonesia semakin terus meningkat bahkan hampir tidak terkendalikan, dimana dalam hal ini mengharuskan beberapa upaya untuk melakukan penyekatan terhadapnya merebaknya kasus positif covid19 tersebut. Pemerintah sebagai pembuat regulasi pun dengan sedikit memaksa melakukan larangan-larangan yang sifatnya memutus pencegahan kasus covid-19 dengan cara melakukan kebijakan mulai dari lockdown, work from home, hingga menjaga jarak. Dari beberapa kebijakan tersebut mencakup segala aspek yang ada dalam segi masyarakat, baik dari segi sosial, finansial ekonomi, juga hingga dunia pendidikan terkena imbasnya. Yang perlu diperhatikan adalah masa pandemi covid-19 ini seakan memaksa dunia pendidikan Indonesia agar dapat beradaptasi dengan teknologi yang berkembang dikarenakan pada sistuasi seperti ini proses perpindahan ilmu yang dilakukan oleh seroang pengajar kepada anak didiknya haruslah berjalan dengan semestinya untuk keberlangsungan kemajuan bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Sejumlah cara dilakukan untuk melanjutkan pembelajaran baik dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Perguruan Tinggi menggunakan alat penunjang seperti laptop, computer, handphone dan juga beberapa aplikasi penunjang lainnya yang mana sistem ini dinamakan sistem pembelajaran jarak jauh. Sistem pembelajaran jarak jauh ini berbentuk video conference dimana pengajar dan peserta didik dapat bertemu dan berkomunikasi secara virtual. Namun yang paling dicermati adalah metode seperti ini dirasa masih belum bisa dikatakan efektif karena beberapa pengajar dan peserta didik terkadang mengeluhkan karena selalu mendapatkan gangguan jaringan dan tentu mengganggu proses jalannya pembelajaran. Selain hal tersebut, tak jarang juga baik pengajar dan peserta didik belum memahami mengenai cara atau proses penggunaan alat penunjang dan juga cara memakai aplikasi pembelajaran tersebut. Oleh karena itu karena kondisi yang terus memaksa dan diperkirakan akan berlangsung dengan jangka waktu yang panjang maka diperlukan bentuk pendidikan atau pengajaran berupa hal yang bersifat literasi teknologi khususnya teknologi dalam dunia pendidikan. Karena dari pendidikan berupa literasi teknologi pendidikan ini demi berjalannya kefektifan dari proses pembelajaran jarak jauh karena di masa yang akan datang kita tidak akan terlepas dari teknologi dan akan selalu berdampingan dengan hal tersebut. Selain itu tentu kualitas jaringan internet pun harus dikembangankan agar bisa dijangkau dari seluruh wilayah ibu pertiwi demi mewujudkan kemerdekaan dalam penidikan.  

——PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL——

Kekerasan Seksual di masa Pandemi

 Penyebaran pandemi Covid-19 membatasi mobilitas banyak orang, sebagai upaya pecegahan penyebaran Covid-19, banyak kegiatan yang kemudian dilakuakan dengan penggunaan internet. Bukan hal baru internet menemani banyak orang di kesehariannya dalam berkegiatan. Banyak keuntungan yang didapat dari penggunaan internet seperti dalam bidang entertainment, mempermudah dalam kegiatan jual beli atau online shopping, kemudahan dalam mendapat informasi dan banyak lagi. Dari banyak manfaat penggunaan internet, internet juga memiliki dampak negatif yang disebebkan karena internet yang tidak memiliki batasan dan sangat mudah diakses, salah satunya yakni kekerasan seksual seperti verbal abuse, body shaming, dan banyak lagi. 

 Data terakhir menunjukkan kekerasan seksual berbasis online diestimasi akan meningkat lebih dari 40% tahun ini. Ada 281 kasus tercatat sepanjang 2019 sementara sudah ada 659 kasus dalam rentang waktu 10 bulan terakhir saja. Sebagian besar dari korban berada di usia muda, pelajar juga pekerja.

 Kekerasan seksual berbasis online berdasar pada relasi kekuasaan yang timpang. Ada dua tujuan pelaku kekerasan seksual berbasis online yakni memperoleh keuntungan secara seksual dan keuntungan finansial. Ada tiga bentuk kekerasan seksual berbasis online di Indonesia, yakni:

  • Kekerasan seksual yang difasilitasi teknologi

 Bentuk kekerasan seksual berbasis online ini, dimana pelaku melakukan kekerasan seksual seperti pencabulan, penyiksaan seksual, perkosaan, eksplitasi tubuh korban secara real time melalui internet.

 Salah satu contohnya terjadi di Aceh, dimana sekumpulan pelajar dijebak oleh jaringan pelaku untuk untuk mengirimkan gambar telanjang mereka melalui media sosial. Kemudian dieksploitasi secara seksual lewat internet dan dipaksa melacur di dunia nyata.

 Di Bojonegoro, Jawa Timur, seorang guru memotret para korban dalam keadaan telanjang, lalu menjualnya di internet, Ia kemudian juga memaksa para korban untuk melakukan kegiatan seks baik di internet maupun saat tatap muka.

  • Penyebaran Konten Seksual

 Bentuk ini berupa penyebaran foto, video, dan tangkapan layar percakapan antara pelaku dengan korban. Konten yang disebarkan mengandung unsur intim dan pornografi korban.  Contoh kasus ini adalah penyebaran foto telanjang 14 orang remaja putri di Lampung Selatan. Mereka berkenalan dengan pelaku di media sosial dan kemudian diancam dan dibujuk untuk berfoto telanjang. Ancaman dan tindakan tersebut dilakukan dengan tujuan memperoleh keuntungan seksual dan finansial dari korban.

  • Balas dendam dengan pornografi

 Bentuk kekerasan ini melibatkan para pihak yang memiliki relasi intim. Pelaku menyebarluaskan konten intimnya dengan korban dalam rangka mencemarkan nama baik korban, membalas dendam, atau memperoleh keuntungan finansial. Salah satu contoh kasusnya adalah penyebaran foto intim mantan pacar yang dilakukan mahasiswa di Banyumas, Jawa Tengah. Dalam kasus ini pelakunya biasanya adalah suami, mantan suami, mantan pacar, selingkuhan, maupun atasan korban.

 Penanganan kekerasan seksual berbasis online di Indonesia masih belum ada payung hukum yang jelas, sehingga dalam penangananya pun masih sangat terbatas, yang tidak memberi efek jera pada pelaku dan tidak melindungi korban 

 Sekolah Tinggi Hukum Bandung (STHB) melalui Kementerian Advokasi SEMA-STHB, dalam hal ini berusaha melakukan Pencegahan Kekerasan Sekual melalui banyak kegiatan seperti Campaign #MULIABICARA!, Sharing Center

Pencegahan Kekerasan Seksual, Posko Bantuan Kekerasan Seksual, dan melakukan pendataan atas tanggapannya terkait Pencegahan Kekerasan Seksual di lingkungan kampus STHB.

TIMELINE UPAYA MENDAPAT TANGAPAN DARI LEMBAGA STHB

 Dari rangkaian kegiatan tersebut, didapat data dari survei bahwa 12% pernah menglami kekerasan seksual di kampus, kemudian 95% dari seratus responden merasa perlu adanya Langkah Pencegahan Kekerasan Seksual di lingkungan kampus STHB.

 Survei ini kami lakukan dari tanggal 20 Maret s.d. 7 April 2021 dengan dasar data tersebut dan kajian yang kami tulis, Advokasi Kesejahteraan meminta Lembaga melalui Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan untuk mengambil Langkah Pencegahan Kekerasan Seksual di lingkungan kampus STHB.

HASILNYA: 

 Bahan yang kami berikan diterima oleh Wakil Ketua III, dan akan di bawa untuk dijadikan bahan pembicaraan informal dengan Ketua STHB dan Wakil Ketua I. Karena sebelumnya ditahun 1996 pernah ada kasus mahasiswi yang menyusun skripsi tentang hubungan pra nikah dan melakukan survei terhadap temantemannya di STHB. Kemudian, ketika ia hendak sidang, sidangnya tersebut ditolak karena di takutkan akan mempengaruhi nama baik kampus STHB. 

 Advokasi Kesejahteraan berupaya agar Lembaga STHB dapat sesegera mungkin mengambil langkah terkait hal ini, namun dengan situasi dan kondisi yang serba keterbatasan, kami baru dapat kembali menemui Wakil Ketau III pada Selasa, 13 Juli 2021, via google meet dengan agenda (1) mendapat hasil pembicaraan atas data dan kajian terkait Pencegahan Kekerasan Seksual di lingkungan kampus STHB; kemudian (2) meminta agar sesegera mungkin Lembaga STHB memberikan bentuk tanggapan atas hal ini.

 Didapat bahwa Wakil Ketua III Pertama, merasa belum mendapatkan waktu tepat untuk mendiskusikannya dengan Pimpinan, Lembaga sedang FOKUS untuk menyiapkan sistem perkuliah tatap muka. “Setelah itu baru bapak akan bawa kepimpinan terkait hal ini”, 

Kedua kajian ilmiah (SKRIPSI) tentang kekerasan seksual di kampus ini sebelumnya pernah ada dan diminta untuk mengganti masalah yang dikajinya karena dirasa ini merupakan hal sensitif yang jika ingin dibicarakan perlu kahatihatian. “Nanti saya akan melakukan pendekatan one by one pada pimpinan yang lain (Ketua, dan Wakil Ketua I) terkait masalah ini, karena masalahnya sensitif jadi harus hati-hati”

Ketiga “Tindakan yang akan dilakukan oleh lembaga yaitu preventive dan preventif. Dikarenakan mahasiswa yang sudah dewasa juga jadi, kita harus melihat dari dua sisi yang mana disisi lain mahasiswa mempunyai hak untuk melakukan itu dan disisi lain perbuatan itu juga tidak bisa dibiarkan begitu saja.  Tidak seperti narkoba yang merugikan untuk semua pihak. Terkait masalah ini ada kepentingan yang harus ditutupi, yang tidak boleh sampai muncul kepermukaan

Keempat “Temui saya bulan depan atau awal september bisa ngobrol berempat sama bu Eva karen sudah mulai santai.”

 Kasus dugaan kekerasan seksual di lingkungan kampus yang terus berulang, sehingga menuai desakan supaya diadakannya regulasi pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di perguruan tinggi. Tidak hanya di Sekolah Tinggi Hukum Bandung desakan ini disuarakan, banyak perguruan tinggi yang belum melek akan pentinggnya Pencegahan Kekerasan Seksual. 

 Contohnya yaitu seperti yang terjadi di Kota Medan. Dugaan kasus pelecehan seksual muncul di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU). Terdapat dugaan dengan dosen sebagai pelaku pelecehan seksual terhadap tiga orang mahasiswi FISIP USU. Respon terhadap kasus yang diberikan oleh pihak program studi (prodi) dianggap mengecewakan, karena seakan-akan kasus ini dututupi, lagi-lagi, dengan dalih nama baik institusi. Bahkan Kepala Prodi terkait menyatakan bahwa kasus pelecehan seksual terjadi karena adanya kesalahan dari diri korban sendiri.

 Dugaan kasus pelecehan seksual juga mencuat di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip). Kini, terdapat empat korban dan satu pelaku. Untuk menemukan jalan keluar dari kasus ini, pihak fakultas menyarankan metode non-litigasi kepada korban dan pelaku. Langkah ini diambil, menurut pihak fakultas, karena kasus pelecehan seksual mampu diselesaikan secara prosedural dekanat, tak perlu sampai ke pihak rektorat, terutama pihak luar kampus. Ditambahkan oleh Suharyo, Pembantu Dekan 2 FIB Undip, kasus pelecehan seksual sendiri “bukanlah pelanggaran yang berat,” terlebih pelaku sendiri sudah cukup mendapatkan ganjarannya berupa sanksi sosial.

 Kurang memadainya penanganan kasus pelecehan seksual di kampus ternyata tak hanya dialami oleh universitas dalam negeri. Baylor University, sebuah universitas di negara bagian Texas, Amerika Serikat, akhir-akhir ini mencapai kesepakatan dengan dua orang korban pelecehan seksual yang kasusnya terjadi pada tahun 2011. Hal ini mengindikasikan bahwa penanganan kasus pelecehan seksual di kampus juga merasakan kesulitan sehingga memakan waktu yang lama, bahkan untuk negara sekelas Amerika Serikat. Bahkan, menurut rubrik The Cut dalam New York Magazine menyatakan bahwa kejadian pelecehan seksual berupa gang rapes (pemerkosaan yang dilakukan oleh sekelompok orang) kemungkinan besar terjadi di seluruh universitas di Negeri Paman Sam.

 Desakan adanya bentuk pencegahan kekerasan seksual di perguruan tinggi, khususnya di STHB, masih dianggap tabu karena katanya “terlalu sensitif” dan ada ketakutan akan memeberi gambaran tidak baik pada masyarakat. Tidak bosan kami menyampaikan ini adalah Langkah Pencegahan yang mana seharusnya menjadi gambaran yang baik dimana, bahkan saat 0 kasus kekerasan seksual kampus dapat berupaya untuk melakukan langkah pencegahan.  

REFERENSI

  1. Nurtjahyo Lidwina Inge, “Tantangan dalam pengungkapan dan penanganan kasus kejahatan seksual pada setahun pandemi COVID-19”, 31 Mei 2021. Dari theconversation.com
  2. Komnas Perempuan, Catahu Kekerasan Terhadap Perempuan, 2020.  

[1] Pen.di.dik.an.           2016.      Pada      Kamus      Besar      Bahasa      Indonesia      Daring,         dari

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/pendidikan, diakses 19 Juni 2020

[2] A. Syalaby Ichsan, “Pandangan dan Tnatangan Pendidikan Indonesia”, 18 April 2021, dari https://www.republika.co.id/berita/qrqnuu483/pandangandantantanganpendidikanindonesia, diakses 18 April 2021

[3] Heri, “PENGERTIAN TEKNOLOGI: Sejarah, Perkembangan, Manfaat & Contoh Teknologi Terbaru”,  25 Februari 2018, dari https://salamadian.com/perkembanganpengertianteknologi/. Diakses 20 Juni 2021

[4] Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan (Jakarta: Prenadamedia Group, 2016), hlm.53.

[5] Benny A. Pribadi, “Peranan Teknologi Pendidikan Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran,” in Optimalisasi Peranan Teknologi Pendidikan Dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran (Padang: Universitas Terbuka Repository, 2011), hlm.6.

[6] Teknologi Pendidikan. 2016. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/teknologi.pendidikan, diakses 19 Juni 2021

[7] Kristiana Hesti Padmini and Brigitta Putri Atika Tyagita, “Teknologi Pendidikan Sebagai Pembelajaran Kompetitif Untuk Meningkatkan Prestasi Siswa : Studi Kasus Di Salah Satu SMA Di Salatiga,” in Prosiding Seminar Nasional Pendidikan (Surakarta, 2015), 60. Dari https://media.neliti.com/media/publications/171192IDteknologipendidikansebagaipembelajara.pdf, diakses 19 Juni 2021

[8] M. Yusuf Tahir, “Peranan Teknologi Pendidikan Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan,” in Prosiding SIDKUN 2016: Seminar Islam Dan Kelestarian Ummah Peringkat Serantau (Kedah:

[9] Rosmita, “Efektivitas Pembelajaran Daring (Studi Kasus Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Kelas X IPS SMA Negeri 9 Tanjung Jabung Jawa Timur), “https//:respitory.unja.ac.id”, diakses 14 Juli 2021.

[10] Dinas Pendidikan Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu, “Pemblejaran Di Masa Pandemi Covid-19”, https//:diknas.okukab.go.id/berita/detail/pembelajaran-di-masa-pandemi-covid-19, diakses 14 Juli 2021.

[11] Pusat Data Dan Teknologi Informasi Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan, “Pembelajaran Online di Tengah Pandemi Covid-19, Tantangan yang Mendewasakan”,

“https//:pusdatin.kemedikbud.go.id./pembelajaran-online-di-tengah-pandemicovid-19-tantanganyang-mendewakan, diakses 14 Juli 2021.

[12] Fransisca  Christy  Rosana,  “Kecepatan  Internet  RI  Nyaris  Terendah,  Menkominfo  Sebut enam Sebab, “https//:bisnis.tempo.co/read1338150/kecepatan-internet-ri-nyaris-terendah-menkominfosebut-6-sebab, diakses 14 Juli 2021.

[13] Anjas  Gigih  Wicaksana,  “Pembelajaran  Jarak  Jauh  Yang  Tidak  Efektif Di Daerah Pelosok, “https//:jurnalpost.com/pembelajaran-jarak-jauh-yang-tidak-efektif-di-daerah-pelosok, diakses 14 Juli 2021. 

[14] Chryshna Mahatman, Kebijakan Pendidikan Formal Anak pada Masa Pandemi Covid-19, 24 Juli 2020. Dari https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparantopik/kebijakanpendidikanformalanakpadamasapandemicovid19, diakses 15 juli 2021.

[15] CNN Indonesia, Lockdown Dilonggarkan, Sekolah di Prancis Mulai Dibuka, 13 Mei 2020. Dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200513104508134502800/lockdowndilonggarkansekolahdiprancismulaidibuka, diakses 12 Juli 202.

[16] McKinsey & Company, “COVID-19 and student learning in the United States: The hurt could last a lifetime”, 1 Juni 2020. Dari https://www.mckinsey.com/industries/publicandsocialsector/ourinsights/covid19andstudentlearningintheunitedstatesthehurtcouldlastalifetime, diakses 13 July 2021

[17] CNBC Indonesia, “Corona Eases, South Korea Reopens Schools”, 20 Mei 2020. Dari https://www.cnbcindonesia.com/news/202005201629338159918/coronameredakoreaselatanbukakembalisekolah, diakses 14 juli 2021

Abdi Masyarakat 2021 “Bersatu Membangun Desa yang Maju dan Mandiri Demi Mewujudkan Darmabakti Perguruan Tinggi”

22-28 Februari 2021

Desa Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey.

Sesuai dengan tujuan Tridarma Perguruan Tinggi dan PP No. 30 Tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi yang menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, dan menciptakan ilmu pengetahuan teknologi atau kesenian, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan atau kesenian untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kehidupan nasional. Sebagai bentuk perwujudan kepedulian kami sebagai mahasiswa, maka Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum Bandung menyelenggarakan Program Abdi Masyarakat. Bertujuan untuk memberdayakan dan membangun desa tertinggal, dengan cara berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk membangun desa tertinggal menjadi desa yang lebih mandiri dan maju.
Dengan Program Abdi Masyarakat ini, mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan rasa peduli dan dapat berkontribusi kepada masyarakat agar terbangun desa binaan yang maju, aktif, mandiri, berwirausaha, sejahtera, dan lebih memahami tentang hukum sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Berpaling pada Sang Hidup”

Kegiatan Paskah PMK-STHB 2021
Sabtu, 17 April 2021
Via Zoom Cloud Meetings dan Youtube Live Streaming

Persekutuan Mahasiswa Kristen Sekolah Tinggi Hukum Bandung (PMK- STHB) merupakan salah satu UKM di Sekolah Tinggi Hukum Bandung (STHB) yang berada di bawah naungan Senat Mahasiswa. Dalam rangka merangkul anggota PMK- STHB maka disediakan beberapa program kerja yang dilaksanakan bersama pengurus PMK-STHB, anggota PMK-STHB, alumni PMK-STHB. Salah satu program kerja PMK-STHB adalah acara Perayaan Paskah. Paskah adalah suatu perayaan bagi umat kristiani untuk memperingati kebangkitan Tuhan Yesus yang telah mati dan berkorban untuk menebus dosa umat manusia. Memasuki tahun kedua Perayaan Paskah dalam masa Pandemi Covid-19. Jika perayaan Paskah tahun lalu dilakukan di rumah terasa begitu berbeda, saat ini kita mulai masuk ke dalam kebiasaan baru. Perubahan tataan kehidupan telah membuat mayoritas umat kristiani di Indonesia melaksanakan ibadah secara daring atau kombinasi ibadah di ruang fisik dan digital karena situasi ini pada 2021 kita mungkin telah mengalami sendiri atau mengenal orang yang pernah terinfeksi virus tersebut, kita banyak meneteskan air mata duka. Kita bisa berpaling kepada Sang Hidup dengan mengambil waktu teduh dan berdoa, mengurangi suara yang menghalangi kita mengenali suara Kristus yang sedang menyapa kita, dan saling mengingatkan untuk berpihak kepada kehidupan dengan terus memegang komitmen menjaga kehidupan melalui kepatuhan menjaga protokol kesehatan dalam tataan baru. Melalui Paskah ini marilah kita tetap menjadi umat yang berpaling kepada Sang Hidup.

“Kilas Balik Ideologi Negara Kita Tanah Air Indonesia”

Peringatan Hari Lahir Pancasila

1 Juni 2021

       Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mengadakan sidang pertama dari 29 Mei hingga 1 Juni 1945. Rapat tersebut dilakukan di Gedung Chuo Sangi In yang sekarang dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila.

       Pada zaman Belanda, gedung itu digunakan sebagai gedung Volksraaf atau Perwakilan Rakyat. Rapat tersebut tidak menemukan titik terang. Soekarno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasan pada 1 Juni 1945. Gagasan yang disampaikan Soekarno tentang dasar negara Indonesia merdeka, dinamakan Pancasila. Pidato Soekarno tersebut berisi Lahirnya Pancasila.
       Pidato tanpa persiapan tertulis itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota BPUPKI. BPUPKI membentuk panitia kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar yang berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut. Panitia Sembilan terdiri dari dari:

Read More

KARTINI’S DAY

       Raden Ajeng Kartini atau yang biasa dikenal sebagai R. A. Kartini merupakan sesosok wanita tangguh yang mendasari adanya emansipasi wanita di Indonesia. Beliau lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Kartini yang dari kecil merasa tidak bebas untuk menentukan pilihannya dan juga merasa diperlakukan berbeda dengan saudara maupun teman-teman prianya karena terlahir sebagai seorang wanita, serta merasa kurang adil dengan kebebasan teman-teman wanitanya yang berada di luar negeri khususnya dengan para wanita Belanda. Hal tersebut menumbuhkan keinginan dan tekad di dalam hati Kartini untuk menjadikan para wanita di Indonesia juga mempunyai persamaan derajat yang sama dengan laki-laki, bahwa setiap wanita juga mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan. Demi mewujudkan keinginannya tersebut, Kartini mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang. Melalui sekolah gratis tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Sekolah gratis yang didirikan oleh kartini tersebut kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di berbagai tempat lain, seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon. Perjuangan dan tekad Kartini untuk menyamakan derajat kaum wanita dengan kaum pria telah membuahkan hasil, yaitu dibuktikan dengan berkembangnya sekolah-sekolah untuk wanita, namun tidak seindah dengan hasil yang telah ia capai, Kartini sakit-sakitan dan wafat setelah melahirkan putra pertamanya yaitu pada usia 25 tahun, tanggal 17 September 1904.

Read More

Artikel Jurnal Vol.1

Kementerian Advokasi

Senat Mahaiswa STHB 2020/2021

Kabinet Tiksna Reswara

Catatan Tengah Tahun Penyakit INDONESIA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. Tuhan yang maha pengasih, atas segala rahmat dan karunianya sehingga Kementerian Advokasi Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum Bandung Kabinet Tiksna Reswara dapat menyelesaikan Artikel Jurnal Vol.1 dengan judul “Catatan Tengah Tahun Penyakit di INDONESIA” dengan baik.

Harapan kami semoga artikel jurnal yang telah tersusun ini dapat bermanfaat sebagai salah satu rujukan maupun pedoman bagi para pembaca, menambah wawasan serta pengalaman, sehingga nantinya saya dapat memperbaiki bentuk ataupun isi artikel jurnal ini menjadi lebih baik lagi.

Sebagai penulis, kami mengakui bahwasanya masih banyak kekurangan yang terkandung di dalamnya. Oleh sebab itu, dengan penuh kerendahan hati saya berharap kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan saran demi lebih memperbaiki makalah ini. Terima Kasih.

Bandung, 22 Maret 2021

Kementerian Advokasi

Senat Mahaiswa STHB 2020/2021

Kabinet Tiksna Reswara

DAFTAR ISI

RUU PKS? Polemik dan HAM… 3

Penegakan dan Pemenuhan Hak Asasi Manusia di Indonesia?. 10

PROBLEMATIKA RUU OMNIBUS LAW CIPTAKER.. 23

TELITI RUU CILAKA.. 31

Ongkos PILKADA VS Kurva Pagebluk. 42

Webinar Series Riset Konsorsium Covid-19. 45

Tindakan Represif Aparat 50

PenangkapanMenteri KKP Oleh KPK.. 54

Apa Batasan Ormas dalam Berorganisasi?. 57

KORUPSI. 66

HAM dan Indonesia. 72

MTI. 81

Dapatkah Sanksi dalam PP No.7 Thn 2021 Menekan Laju Kasus Kekerasan Seksual?. 87

Sharing Center: Kekerasan Seksual “Crisi Sexual Vilance #MULAIBICARA”. 94

RUU PKS? Polemik dan HAM

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat setidaknya pada tahun 2019 jumlah kasus yang dilaporkan meningkat sebesar 6%. Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan 2019 sebesar 431.471, jumlah ini meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 406.178. Darurat kekerasan seksual yang semakin mendesak Indonesia akan keberadaan hero untuk melindungi para korban, Pemerintah memilih merancang Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual yang dinilai banyak menimbulkan keresahan di masyarakat banyaknya pro kontra RUU PKS dan di saaat yang bersamaan para predator tetap berkeliaran mencari korban tanpa mengenal usia, waktu, dan, gender. Selain itu sikap plin-plan pemerintah yang kerap menarik ulur pembahasan juga pengesahan RUU PKS sebagai prioritas menimbulkan banyak tanya pada masyarakat akan keseriusan pemerintah menangani isu kekerasan seksual ini. Benarkah RUU PKS dapat melakukan pencegahan terhadap terjadinya peristiwa kekerasan seksual?

Read More